Jumali Senin, 08 Juni 2026 17:07 WIB

Ilustrasi rupiah. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dan mencatatkan level terendah baru sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah melemah 0,89% hingga berada di posisi Rp18.180 per dolar AS.
Data Refinitiv menunjukkan posisi tersebut melampaui rekor pelemahan sebelumnya yang sempat terjadi pada masa pandemi Covid-19 ketika rupiah menyentuh kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah masih kuatnya posisi dolar AS di pasar global. Meski indeks dolar AS (DXY) pada Senin pagi tercatat melemah 0,07% ke level 99,998, indeks tersebut masih bertahan di area tinggi setelah menguat 0,66% pada perdagangan akhir pekan lalu hingga kembali menembus level 100.
Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi terbatas.
Penguatan dolar AS sebelumnya didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Mei yang lebih baik dari perkiraan pasar. Data tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya.
Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar karena menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi investor global.
Selain faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik juga turut menopang penguatan dolar AS. Investor masih memburu aset aman atau safe haven di tengah belum adanya perkembangan signifikan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Hizbullah di Lebanon juga menambah kekhawatiran pasar. Situasi tersebut mendorong investor global untuk menempatkan dana mereka pada aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh penurunan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa pada akhir Mei 2026 turun US$1,3 miliar menjadi US$144,9 miliar.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik.
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih dinilai kuat. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka itu juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
Pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak langsung terhadap masyarakat. Harga barang impor seperti produk elektronik, kendaraan, pakaian, hingga bahan baku industri berisiko mengalami kenaikan.
Biaya perjalanan ke luar negeri dan kewajiban pembayaran utang dalam dolar AS juga menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi pelaku ekspor dan penerima penghasilan dalam mata uang dolar karena nilai tukarnya menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Pengamat menilai pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik global, serta efektivitas langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































