Rupiah Loyo ke Level Terendah, Penangkar Bibit Pertanian Ingatkan Ini

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp17.600 mulai menekan industri benih tanaman perkebunan nasional. Artinya,  pelemahan Rupiah terbukti juga berdampak kepada industri di pedesaan.

Pelaku usaha mengaku kenaikan kurs berdampak langsung terhadap ongkos produksi di lapangan.

Seperti diketahui, nilai tukar Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sore ini rupiah berakhir di zona merah dengan melemah 1,03% ke level Rp17.640/US$. Level tersebut membuat rupiah kembali menembus area psikologis di atas Rp17.000/US$ dan menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia Badaruddin Sabang Puang mengatakan, penguatan Dolar AS membuat harga berbagai kebutuhan produksi ikut meningkat, mulai dari pupuk hingga alat pertanian.

"Kenaikan nilai dolar AS sudah bisa dipastikan mempengaruhi meningkatnya biaya produksi benih akibat naiknya harga faktor-faktor produksi seperti pupuk, pestisida, polybag, tenaga kerja, hingga alat dan bahan pertanian lainnya," ujar Badaruddin kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).

Siap-Siap Harga Bibit Naik

Tekanan biaya mulai dirasakan para pelaku UMKM penangkar yang selama ini menjadi penyedia bibit perkebunan nasional. Di tengah kondisi tersebut, para pelaku usaha mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran agar kualitas produksi tetap terjaga.

Salah satu langkah yang didorong adalah memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Penggunaan pupuk organik dan metode pengendalian hama yang lebih efisien mulai dipertimbangkan sebagai solusi.

"Kondisi seperti ini diharapkan membuat para penangkar melakukan penghematan terhadap unit-unit kegiatan yang masih bisa ditekan tanpa mempengaruhi kualitas maupun jumlah produksi," katanya.

Ketergantungan industri pertanian terhadap pupuk impor menjadi tantangan besar saat nilai tukar rupiah melemah. Sebab hampir seluruh bahan baku pupuk kimia masih berasal dari luar negeri.

"Hampir semua bahan baku pupuk kimia atau anorganik adalah impor. Alternatif untuk mengurangi ketergantungan itu adalah menggunakan pupuk organik atau kompos," ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga benih perkebunan apabila kondisi kurs terus bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

"Apabila Dolar terus meningkat, sangat memungkinkan dilakukan evaluasi atau peninjauan ulang terhadap harga benih tanaman perkebunan siap salur," kata Badaruddin.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|