Rupiah Loyo Ancam Rantai Bisnis Perkebunan? Ini Kata Pengusaha Bibit

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Program hilirisasi perkebunan mulai memunculkan dampak ekonomi di wilayah pedesaan. Pengembangan berbagai komoditas perkebunan dinilai bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menggerakkan sektor turunannya seperti perbenihan.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini fokus mengembangkan tujuh komoditas strategis yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete. Pada periode 2025-2027, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk pengembangan kebun rakyat dengan target mencapai 870 ribu hektare.

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia Badaruddin Sabang Puang mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 200 juta batang bibit tanaman perkebunan yang sudah tersedia di penangkaran untuk berbagai komoditas seperti kakao, kopi, kelapa, pala, lada, dan jambu mete. Selain itu, lebih dari 5.000 hektare kebun benih juga telah dibangun.

"Penting untuk diingat bahwa sebagian besar produsen benih yang terlibat adalah UMKM. Melibatkan lebih kurang 170 penyedia dan 300 mitra penangkar. Sebagian besar mereka berinvestasi di muka dengan memanfaatkan dana perbankan, swadaya atau investor mengingat pembayaran dilakukan setelah benih disalurkan," kata Badaruddin.

Aktivitas tersebut mulai menciptakan efek ekonomi turunan yang cukup besar di daerah. Mulai dari usaha logistik, penyedia pupuk, polybag hingga kebutuhan paranet ikut bergerak seiring meningkatnya aktivitas produksi benih.

Ia memperkirakan program ini telah menyerap sekitar 120 ribu tenaga kerja di pedesaan. Bahkan khusus pengembangan kebun benih tebu, terdapat sekitar 100 armada pengiriman yang bergerak setiap hari untuk mendistribusikan benih ke berbagai daerah.

"Ada sekitar Rp750 miliar investasi pelaku UMKM pada kegiatan ini," jelas Badaruddin.

Namun di tengah geliat program hilirisasi tersebut, pelaku industri benih kini mulai menghadapi tekanan baru akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menembus Rp17.600. Kenaikan kurs disebut mulai mendorong naiknya biaya produksi di tingkat penangkar.

Badaruddin mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap harga berbagai faktor produksi yang masih bergantung pada bahan baku impor, terutama pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya.

"Kenaikan nilai dolar AS sudah bisa dipastikan memengaruhi meningkatnya biaya produksi benih akibat naiknya harga faktor-faktor produksi seperti pupuk, pestisida, polybag, tenaga kerja, hingga alat dan bahan pertanian lainnya," ujar Badaruddin.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|