Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) membeberkan bahwa Indonesia berpeluang menjalin kerja sama dengan Jepang, terutama dalam pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ).
Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan pembahasan mengenai potensi kerja sama itu sempat muncul dalam pertemuannya dengan Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto beberapa waktu lalu.
"Pak Profesor Brian mengatakan kepada saya bahwa akan ada pembicaraan pada waktu itu dengan pihak Jepang. Saya enggak tahu pihak Jepangnya dari mana untuk masalah kerja sama dengan Timah ini," ungkap Irwandy dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sebelumnya PT Timah juga sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan luar negeri dalam pengolahan monasit untuk mneghasilkan LTJ, Uranium, dan Torium. Namun demikian, hingga kini belum ada kesepakatan yang terealisasi.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki potensi LTJ yang tersebar. Mineral tersebut umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari tambang timah aluvial, laterit nikel, residu bauksit, hingga abu batu bara.
Sementara itu, mineral utama yang mengandung LTJ di Indonesia antara lain monasit di Bangka Belitung, xenotim, dan zirkon.
Irwandy lantas membeberkan bahwa terdapat salah satu wilayah yakni Mamuju, Sulawesi Barat yang menarik perhatian lantaran memiliki kandungan mineral logam tanah jarang primer, bukan sekadar mineral ikutan.
"Jadi pada waktu saya berbicara dengan Ketua Komisi XII Pak Bambang Patijaya tadinya mengatakan tidak ada yang primer, ternyata di Mamuju ada. Dan ini sudah menjadi perhatian BIM. Sudah menjadi perhatian BIM dan tentunya nanti juga mungkin yang ditugaskan itu Perminas. Jadi kalau kita lihat memang inilah yang terdapat di Indonesia saat ini yang kita kenal secara cepat," kata Irwandy.
Apa itu LTJ?
Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Ia menyebutkan bahwa mineral tersebut diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yakni logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.
Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).
Adapun, pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi elektron orbital, di mana kelompok berat cenderung lebih langka dan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
"Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan lebih banyak sedangkan yang berat itu lebih langka dan bernilai tinggi serta kemudian berdasarkan sifat magnetik dan kimia yang berbeda," papar Irwandy, dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).
Di Indonesia, keberadaan LTJ pada umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Beberapa jenis mineral yang mengandung LTJ di tanah air meliputi monasit, xenotim, dan zirkon yang banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.
Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi keberadaan cadangan logam tanah jarang tipe primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan tersebut menjadi fokus perhatian baru karena kadarnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mineral ikutan, sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.
"Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," jelas Irwandy.
Berdasarkan data penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ yang sangat tinggi mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung yang berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, wilayah Sumatera Utara juga memiliki potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm yang berasal dari pelapukan batuan granit.
"Tingkat pasokan yang terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi yang terbesar 31% itu serium. Yang kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen," tuturnya.
Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor yang paling strategis karena menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan akan terus meningkat dari porsi 29% pada tahun 2023 menjadi 41% pada tahun 2034 mendatang.
(ven/wia)
Addsource on Google
















































