Ramai-Ramai SEAblings, Ingat Saat Asia Tenggara ‘Selamatkan’ Korea Selatan

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Sentimen rasialis dari netizen Korea Selatan bikin panas warga Asia Tenggara yang belakangan bersatu dalam tagar SEAblings. Yang jarang dibicarakan dalam sengkarut ini adalah: tanpa bantuan negara-negara Asia Tenggara, Korea Selatan bisa jadi jauh lebih sulit bangkit dari perang mematikan pada 1950-an.

Di tengah gemuruh Perang Korea pada awal 1950-an, tak banyak yang membayangkan bahwa negeri di Semenanjung Korea itu kelak menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Kota-kotanya luluh lantak, jutaan rakyatnya mengungsi, dan kelaparan menjadi ancaman nyata. Namun di balik kisah kebangkitan Korea Selatan, terselip jejak solidaritas dari negara-negara Asia Tenggara.

Perang Korea (1950–1953) mempertemukan blok-blok besar dunia dalam ketegangan ideologis. Di bawah komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejumlah negara mengirimkan bantuan militer untuk mempertahankan Korea Selatan dari invasi Korea Utara. Dari Asia Tenggara, Filipina dan Thailand tercatat sebagai dua negara yang berpartisipasi aktif.

Filipina mengirimkan Philippine Expeditionary Forces to Korea (PEFTOK). Pasukan ini terlibat dalam sejumlah pertempuran penting, membantu mempertahankan wilayah strategis dan jalur suplai. 

Sekitar 7.420 personel militer dikirim Filipina sepanjang periode perang. Pasukan ini dikerahkan secara bergelombang sejak 1950 hingga 1955 (termasuk masa pascagencatan senjata).

Mereka terlibat dalam sejumlah pertempuran penting, termasuk Pertempuran Yultong (1951). Korban dari pihak Filipina tercatat lebih dari 100 prajurit gugur, ratusan lainnya luka-luka.

Sementara Thailand mengirimkan Royal Thai Expeditionary Force, termasuk pasukan darat dan dukungan medis. Kontribusi ini bukan sekadar simbolik; sejumlah prajurit Asia Tenggara gugur di medan laga Korea.

Thailand mengirim sekitar 6.326 personel militer selama perang. Thailand juga mengirim kapal perang dan dukungan logistik. Thailand mencatat lebih dari 100 prajurit gugur dalam konflik tersebut.

Perang Korea (1950–1953) meninggalkan luka mendalam: infrastruktur hancur, jutaan warga mengungsi, dan produksi pangan anjlok drastis. Pada dekade 1950-an hingga awal 1960-an, negeri itu sangat bergantung pada bantuan internasional untuk sekadar memastikan rakyatnya tidak kelaparan.

Di tengah situasi tersebut, solidaritas dari negara-negara sahabat mengalir. Termasuk dari Indonesia yang kala itu juga baru beberapa tahun merdeka dan masih berjuang menata ekonomi nasional.

Merujuk Arsip Kementerian Luar Negeri RI, hubungan diplomatik Indonesia–Korea Selatan resmi terjalin pada 1966. Namun interaksi kemanusiaan dan kerja sama pembangunan sudah dirintis sejak masa awal hubungan bilateral. Dalam berbagai forum internasional dan kerja sama Selatan–Selatan, Indonesia mendukung upaya rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi Korea Selatan, termasuk pada sektor pangan dan pertanian.

Pada era 1960-an, Korea Selatan menghadapi persoalan serius dalam swasembada pangan. Lahan pertanian rusak akibat perang, produktivitas rendah, dan teknologi pertanian terbatas. Pemerintah Seoul kala itu menggulirkan berbagai program reformasi agraria dan modernisasi desa yang kelak dikenal sebagai Saemaul Undong pada 1970-an.

Di tengah proses itu, negara-negara Asia, termasuk Indonesia, terlibat dalam pertukaran pengalaman dan kerja sama teknis di sektor pertanian. Indonesia yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan padi tropis dan sistem irigasi tradisional menjadi salah satu mitra dialog dalam kerja sama pertanian kawasan Asia.

Solidaritas Indonesia juga tecermin dalam dukungan diplomatik terhadap stabilitas dan pembangunan Korea Selatan di forum internasional seperti PBB. Dukungan politik tersebut penting bagi Korea Selatan yang saat itu tengah mencari legitimasi dan dukungan global untuk pemulihan ekonomi.

Sejumlah catatan hubungan bilateral menunjukkan bahwa pada masa-masa awal pembangunan, kedua negara aktif bertukar delegasi teknis dan pengalaman pembangunan pedesaan. Meski tidak dalam skala bantuan pangan besar seperti yang diterima Seoul dari Amerika Serikat, dukungan Indonesia hadir dalam bentuk kerja sama pembangunan dan solidaritas politik sesama negara berkembang.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|