REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah tengah mengkaji penghentian ekspor timah setelah sebelumnya melarang ekspor bauksit. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi untuk memperkuat struktur industri nasional.
Menurut Bahlil, hilirisasi merupakan instrumen utama transformasi ekonomi. Kebijakan itu dinilai mampu mempercepat kedaulatan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun ke depan, kita akan mengkaji beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," kata Menteri ESDM di Jakarta, dikutip Senin (16/2/2026).
Bahlil kembali menyinggung kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2018–2019. Sebelum perubahan kebijakan, total ekspor nikel Indonesia hanya sekitar 3,3 miliar dolar AS. Setelah hilirisasi berjalan, nilai ekspor melonjak signifikan. Pada 2024, ekspor nikel tercatat menembus 34 miliar dolar AS.
"Sepuluh kali lipat dalam waktu lima tahun. Inilah dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata dan menciptakan lapangan pekerjaan," ujarnya.
Ia menyebut pengalaman di sektor nikel menjadi pijakan pemerintah untuk memperluas kebijakan serupa ke komoditas lain. Dari total potensi investasi hilirisasi hingga 2040 yang diperkirakan mencapai 850 miliar dolar AS, sekitar 90 persen berada di sektor ESDM.
Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi Rp 618 triliun. Proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga pembangunan kilang minyak.
Produk hilir ditargetkan menggantikan barang impor dan memperkuat pasar domestik. Pemerintah juga membuka ruang pembiayaan bagi investor nasional serta sektor perbankan untuk masuk ke proyek-proyek tersebut.
“Semua produknya untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai tidak dibiayai, nanti dikira nilai tambahnya dikuasai dari luar negeri,” ujar Bahlil.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM menegaskan hilirisasi berjalan seiring agenda ketahanan dan swasembada energi. Pemerintah mendorong peningkatan lifting minyak, optimalisasi sumur tua, serta memberikan ultimatum kepada wilayah kerja yang belum berproduksi agar segera merealisasikan investasinya.
Hingga 2040, program hilirisasi diproyeksikan mendatangkan investasi 618 miliar dolar AS, dengan kontribusi terbesar dari subsektor mineral dan batu bara sebesar 498,4 miliar dolar AS serta minyak dan gas 68,3 miliar dolar AS. Program ini juga diperkirakan menghasilkan ekspor 857,9 miliar dolar AS, tambahan PDB 235,9 miliar dolar AS, serta menyerap lebih dari tiga juta tenaga kerja.
sumber : Antara

7 hours ago
4














































