Purbaya: Ekonomi Indonesia Jangan Dinilai Hanya dari Kurs Rupiah

1 week ago 22

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Kementerian keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski kantong negara tekor akibat belanja yang melonjak agresif, pemerintah mengklaim kondisi fiskal masih aman berkat setoran pajak yang tumbuh subur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta semua pihak melihat potret ekonomi nasional secara utuh melalui kacamata yang lebih luas. Kondisi perekonomian Indonesia tak boleh hanya diukur dari pasang surutnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Kalau kita lihat di sini sih, optimismenya masih ada ke dalam Indonesia. Jadi jangan terlalu melihat hanya satu indikator saja (nilai tukar rupiah),” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Salah satu bukti nyata yang mempertegas optimisme tersebut adalah masih tingginya kepercayaan investor global. Arus modal asing tercatat masih mengalir deras masuk ke pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data hingga 3 Juni 2026, Indonesia membukukan net inflow atau aliran modal masuk bersih sebesar Rp32,8 triliun. Bahkan, jika ditarik khusus pada kuartal II-2026 berjalan, angka inflow melonjak signifikan hingga menyentuh Rp60,9 triliun.

Purbaya membeberkan, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi magnet utama yang paling memikat dana asing dengan catatan inflow mencapai Rp99,9 triliun. Kondisi ini mampu menambal rapor pasar saham domestik yang masih tertekan aksi jual dengan outflow sebesar Rp56,4 triliun.

"Terlihat sekali bahwa SBI maupun BI (SRBI) masih signifikan inflow-nya,” ucapnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|