Profil dan Pemilik KMP Putri Yasmin, Terbakar di Selat Lombok

3 hours ago 8

Harianjogja.com, MATARAM— KMP Putri Yasmin merupakan kapal motor penumpang jenis Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) yang melayani penyeberangan antarpulau di Indonesia. Kapal ini salah satunya beroperasi pada lintasan Pelabuhan Padangbai, Bali, dan Pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang menghubungkan dua wilayah melalui perairan Selat Lombok.

KMP Putri Yasmin terbakar saat berlayar di perairan Selat Lombok, Rabu dini hari. Sebanyak 106 penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat setelah tim SAR gabungan mengerahkan sejumlah kapal dan armada udara untuk membantu proses penyelamatan.

KMP Putri Yasmin merupakan kapal motor penyeberangan (KMP) milik perusahaan pelayaran PT Jembatan Nusantara (Jemla Ferry). Sebagai pemilik dan operator, PT Jembatan Nusantara mengoperasikan kapal Ro-Ro ini untuk melayani lintasan penyeberangan antar-pulau strategis, khususnya rute yang menghubungkan Pelabuhan Padangbai di Bali dengan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.


Sebagai kapal feri jenis Ro-Ro, KMP Putri Yasmin tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga kendaraan. Konsep tersebut memungkinkan kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga truk angkutan barang dan logistik skala menengah ikut dibawa dalam satu perjalanan penyeberangan.

KMP Putri Yasmin memiliki sejarah yang cukup panjang. Kapal tersebut pertama kali dibangun pada 1992 di Kanda Shipbuilding, Kure, Jepang. Sebelum menggunakan nama KMP Putri Yasmin, kapal ini pernah beroperasi dengan nama Essa Maru dan Bougainvillea.

Spesifikasi KMP Putri Yasmin

Secara teknis, KMP Putri Yasmin merupakan kapal dengan panjang keseluruhan atau length overall (LOA) mencapai 62 meter. Lebarnya berada pada kisaran 8–13 meter, sedangkan draf air kapal sekitar 3,2 meter.

Kapal tersebut memiliki tonase kotor 1.790 Gross Tons (GT) dengan bobot mati atau deadweight tonnage (DWT) sebesar 250 ton. Adapun kecepatan jelajah KMP Putri Yasmin berada di kisaran 7–9 knot.

Berikut identitas dan data teknis KMP Putri Yasmin:

Nama kapal: KMP Putri Yasmin
Tipe kapal: Ro-Ro/Passenger Ship (ferry)
Tahun pembuatan: 1992
Galangan pembuat: Kanda Shipbuilding, Kure, Jepang
Bendera: Indonesia
Nomor IMO: 9037575
MMSI: 525010084
Call Sign: YDGJ
Tonase kotor: 1.790 Gross Tons (GT)
Bobot mati: 250 ton (DWT)
Panjang keseluruhan (LOA): 62 meter
Lebar (beam): 8–13 meter
Draf air (draught): sekitar 3,2 meter
Kecepatan jelajah: 7–9 knot

Rute operasional utama: Pelabuhan Padangbai (Bali)–Pelabuhan Lembar (Lombok)

Fungsi KMP Putri Yasmin sebagai Kapal Ro-Ro

Karakteristik utama KMP Putri Yasmin terlihat dari kemampuannya mengangkut kendaraan bersama penumpang. Kapal jenis Ro-Ro memiliki geladak khusus kendaraan atau car deck yang memungkinkan kendaraan masuk dan keluar kapal melalui sistem bongkar-muat yang menjadi ciri khas kapal penyeberangan.

Geladak kendaraan KMP Putri Yasmin dapat digunakan untuk membawa sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk angkutan barang dan logistik skala menengah. Keberadaan ruang kendaraan tersebut membuat kapal tidak hanya menjadi sarana mobilitas penumpang, tetapi juga mendukung perpindahan kendaraan dan barang antarpulau.

Di sisi lain, penumpang dapat menggunakan ruang akomodasi yang tersedia di dalam kapal. Fasilitas tersebut mencakup kursi standar serta area lesehan atau istirahat untuk menunjang kenyamanan selama perjalanan.

KMP Putri Yasmin juga dilengkapi fasilitas pendukung keselamatan pelayaran laut sesuai regulasi kelaiklautan yang berlaku.

Rute Penyeberangan Bali-Lombok

Dalam operasionalnya, KMP Putri Yasmin melayani rute utama Pelabuhan Padangbai–Pelabuhan Lembar. Lintasan tersebut menjadi salah satu jalur penyeberangan yang menghubungkan Bali dengan Lombok.

Dengan karakter sebagai kapal Ro-Ro, perjalanan menggunakan KMP Putri Yasmin memungkinkan penumpang membawa kendaraan dalam satu perjalanan. Hal ini menjadikan layanan kapal penyeberangan memiliki fungsi penting bagi mobilitas orang sekaligus kendaraan antarpulau.

Riwayat pembangunan kapal sejak 1992 di Jepang, pergantian nama dari Essa Maru dan Bougainvillea hingga menjadi KMP Putri Yasmin, serta identitas maritimnya menunjukkan bahwa kapal ini memiliki perjalanan operasional yang panjang sebelum melayani lintasan penyeberangan di Indonesia.

Kapal tersebut diketahui sedang dalam perjalanan dari Pelabuhan Padangbai, Bali menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, ketika kebakaran terjadi. Proses evakuasi melibatkan Basarnas, TNI AL, Kepolisian, kapal penyeberangan, hingga nelayan yang berada di sekitar lokasi.

Berikut kronologi kebakaran hingga seluruh penumpang KMP Putri Yasmin berhasil dievakuasi.

Kronologi KMP Putri Yasmin Terbakar

04.15 WITA

KMP Putri Yasmin mengalami kebakaran saat berlayar dari Pelabuhan Padangbai menuju Pelabuhan Lembar. Insiden terjadi di tengah perairan Selat Lombok.

04.39 WITA

Kantor SAR Mataram menerima laporan mengenai kebakaran kapal. Tim SAR kemudian mengerahkan personel dan armada untuk menuju lokasi kejadian.

Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi mengatakan keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas dalam operasi tersebut.

"Insiden tersebut dilaporkan terjadi pada pukul 04.15 WITA saat kapal dalam perjalanan dari Pelabuhan Padang Bai menuju Pelabuhan Lembar. Kantor SAR Mataram menerima laporan darurat pada pukul 04.39 WITA dan segera mengerahkan personel untuk melakukan proses evakuasi," kata Hariyadi.

Tim SAR Mataram mengerahkan sejumlah armada, termasuk KN 220 Mataram, Rigid Inflatable Boat (RIB), dan Rigid Buoyancy Boat (RBB).

"Kami telah mengerahkan KN 220 Mataram, Rigid Inflatable Boat (RIB), dan Rigid Buoyancy Boat (RBB) ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi serta berkoordinasi dengan kapal-kapal yang berada di sekitaran lokasi kejadian," ujarnya.

08.00 WITA

Basarnas Bali turut memperkuat operasi penyelamatan. KN SAR Arjuna diberangkatkan dari Pelabuhan Benoa dengan membawa 21 personel menuju lokasi kejadian.

09.50 WITA

Basarnas Bali mengerahkan helikopter SGi Air Bali menuju area pencarian untuk memperluas pemantauan dari udara.

Kepala Kantor Basarnas Bali I Nyoman Sidakarya mengatakan pemantauan melalui udara diperlukan karena memiliki jangkauan pandang yang lebih luas.

“Heli SGi Air Bali take off pukul 09.50 WITA menuju search area. Lebih untuk pencarian via udara, karena dengan heli jangkauan pandang lebih luas, tetap untuk evakuasi dengan alut laut terdekat,” ujar Sidakarya di Denpasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|