Produksi Salak Sleman Terkoreksi 10 Ribu Kuintal, Turi Tetap Dominan

5 hours ago 4


Harianjogja.com, SLEMAN—Produksi salak di Kabupaten Sleman masih menghadapi tekanan pada Semester I 2026. Data Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menunjukkan produksi komoditas unggulan tersebut mencapai 200.531,77 kuintal (kw), turun 10.132,17 kw atau 4,81% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 210.663,94 kw.

Penurunan produksi terjadi di tengah perubahan kondisi budidaya salak di sejumlah wilayah. Berkurangnya luas lahan pertanian serta menurunnya produktivitas tanaman yang telah berusia tua menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil panen pada tahun ini.

Analis Kebijakan Hortikultura dan Perkebunan DP3 Kabupaten Sleman, Putri Early Anggari, mengatakan tren penurunan produksi masih terjadi meski Kapanewon Turi tetap menjadi sentra utama penghasil salak di Bumi Sembada.

Pada Semester I 2026, produksi salak dari Kapanewon Turi mencapai 145.164 kw atau sekitar 72,39% dari total produksi Kabupaten Sleman. Angka tersebut menegaskan posisi Turi sebagai wilayah yang masih menjadi tulang punggung produksi salak daerah.

Sementara itu, produksi salak juga berasal dari sejumlah kapanewon lain. Kapanewon Tempel mencatatkan produksi sebesar 38.551 kw, disusul Pakem 13.217 kw, Sleman 2.751,55 kw, Cangkringan 733,66 kw, dan Ngaglik 114,56 kw.

Berbeda dengan wilayah lainnya, Kapanewon Ngemplak tidak mencatatkan produksi salak selama Semester I 2026.

Kebun Salak Berkurang dan Tanaman Menua

Menurut Putri, penurunan produksi tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca atau musim, tetapi juga perubahan penggunaan lahan yang terjadi di sejumlah kawasan sentra salak.

Sebagian kebun salak dilaporkan telah dibongkar, sehingga luas lahan produktif berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, banyak tanaman salak yang kini telah memasuki usia tua sehingga kemampuan menghasilkan buah tidak lagi optimal.

"Ada lahan pertanian salak yang dibongkar dan banyak lahan dengan tanaman berusia tua yang memengaruhi produktivitasnya, jadi turun produksinya," kata Putri saat dihubungi, Senin (3/8/2026).

Kondisi tersebut sejalan dengan penjelasan Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Eko Sugianto Ngadirin. Ia sebelumnya menyebut usia tanaman memiliki hubungan langsung dengan tingkat produktivitas buah yang dihasilkan.

Rata-rata tanaman salak di Sleman saat ini telah berumur lebih dari 30 tahun. Padahal, masa produktif tanaman salak umumnya berada pada rentang usia 20 hingga 25 tahun.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi upaya menjaga produksi salak sebagai salah satu komoditas hortikultura unggulan Kabupaten Sleman.

Petani Mulai Beralih ke Komoditas Lain

Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada, Wakimin, membenarkan bahwa produksi salak di Sleman terus menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, perubahan pilihan komoditas yang dibudidayakan petani turut memengaruhi luas lahan salak yang masih bertahan hingga saat ini.

"Betul [terus turun produksinya]. Sekarang banyak petani beralih dari tanaman salak ke sayuran seperti mentimun, cabai, dan semacamnya," kata Wakimin.

Peralihan tersebut membuat sebagian lahan yang sebelumnya ditanami salak kini dimanfaatkan untuk komoditas hortikultura lain yang dinilai lebih menarik bagi petani.

Petani Siapkan Air Hadapi Kemarau Panjang

Di sisi lain, petani salak saat ini tengah memasuki masa jeda panen setelah musim panen salak pondoh dan salak madu berakhir.

Panen berikutnya diperkirakan baru akan berlangsung kembali pada November mendatang.

Menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama tahun ini, petani mulai melakukan berbagai langkah antisipasi agar tanaman tetap tumbuh optimal.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan budidaya salak. Pengairan bahkan telah dilakukan sejak sekitar satu bulan terakhir.

Menurut Wakimin, pasokan air menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya salak, terutama ketika curah hujan mulai berkurang.

"Pengairan itu pokok," kata Wakimin.

Hingga saat ini, sentra-sentra produksi salak di Sleman masih mengandalkan pasokan air dari jaringan irigasi sungai. Petani belum bergantung pada sumur bor untuk memenuhi kebutuhan pengairan kebun mereka.

Dengan kondisi tanaman yang semakin tua, berkurangnya luas lahan, serta tantangan musim kemarau, upaya menjaga keberlanjutan produksi salak Sleman menjadi pekerjaan rumah yang masih harus dihadapi para petani maupun pemerintah daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|