Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran diam-diam membawa keuntungan bagi Palantir. Dalam sepekan yang penuh guncangan bagi bursa saham, Palantir justru mencatat lonjakan 15%.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun 1,2% pada pekan ini gara-gara tertekan oleh saham-saham seperti Apple, Google, dan Micron. Indeks acuan lainnya juga anjlok karena harga minyak menukik tajam.
Namun, sikap keras Presiden AS Donald Trump yang belum menunjukkan tanda-tanda mengakhiri perang di Iran, telah membuat investor berburu saham Palantir. Sebagai informasi, anggaran pengeluaran pemerintah menyumbang 60% dari pendapatan Palantir.
Palantir sendiri merupakan pemasok software untuk pemerintah AS, lebih spesifik terkait militer dan lembaga intelijen. Sejak 2024, Palantir bekerja sama dengan perusahaan AI Anthropic untuk kerja-kerja pertahanan militer AS.
Anthropic sendiri sedang menjadi sorotan gara-gara menolak tool AI-nya digunakan untuk menciptakan senjata otonom dan memata-matai warga AS. Sikap itu membuat Trump murka dan melarang lembaga federal menggunakan layanan Anthropic.
Analis di Rosenblatt mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Palantir dan menaikkan target harga menjadi US$200 dari US$150. Saham tersebut ditutup pada Jumat pekan lalu di US$157,16.
Para analis menulis bahwa "konflik di Timur Tengah merupakan pertanda baik" bagi proyek pemerintah yang digarap Palantir. Selain itu, posisi Palantir menunjukkan ada "alternatif yang memadai" untuk model Claude milik Anthropic, dikutip dari CNBC International, Selasa (10/3/2026).
Analis menambahkan kemungkinan lebih banyak kesepakatan antara Palantir dengan Angkatan Darat AS dalam waktu dekat.
Tahun lalu, Palantir meneken kesepakatan bernilai US$10 miliar dengan Angkatan Darat AS. Perusahaan juga menyuplai AI untuk 'senjata' militer seperti penargetan musuh. Beberapa tool AI Palantir dikatakan juga terlibat dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Untuk kemitraannya dengan Anthropic, Palantir belum buka suara secara publik terkait rencana ke depan, mengingat pemerintahan Trump secara tegas melarang penggunaan tool AI Anthropic di masa depan.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































