Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu (tengah); Kepala BPKSF, Aryanto Hendro Suprantoro (kedua dari kanan); dan Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sistem Kearsipan DPAD DIY, Rakhmat Sutopo (kanan) dalam podcast Arsip Menyapa, Sumbu Filosofi Yogyakarta: Sinergi Arsip dan Pariwisata. - Harian Jogja.
JOGJA—Sumbu Filosofi DIY telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia sejak 2023. Untuk memperkuat narasi dan menyebarluaskan nilai yang diusung Sumbu Filosofi, arsip memiliki peran strategis.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sistem Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Rakhmat Sutopo, menjelaskan sebulan setelah Sumbu Filosofi ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, DPAD DIY langsung mengambil langkah tindak lanjut.
“Kami kumpulkan arsip Sumbu Filosofi beserta landmark bersejarahnya, termasuk arsip Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian kami pamerkan,” ujarnya dalam Podcast Arsip Menyapa, Sumbu Filosofi Yogyakarta: Sinergi Arsip dan Pariwisata yang disiarkan melalui kanal Youtube DPAD DIY.
Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya DPAD DIY dalam memasyarakatkan Sumbu Filosofi. Harapannya, pengelolaan Sumbu Filosofi tidak hanya berhenti pada penetapan UNESCO saja, tapi bisa menyebar di masyarakat luas.
“Warisan ini yang penting adalah apa yang dilakukan setelah itu. Dalam pameran kami mengundang masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa sehingga bisa ditransfer apa filosofinya, dengan narasumber berkompeten,” katanya.
Untuk mendukung penguatan narasi Sumbu Filosofi, DPAD DIY juga mengakuisisi arsip, mulai dari mencari arsip, menelaah kesesuaiannya, hingga alih media dan penyimpanan. “Arsip yang ada di luar negeri juga kami coba akuisisi. Masyarakat bisa melihat itu, baik secara langsung maupun digital,” paparnya.
Kepala Balai Pengembangan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF), Aryanto Hendro Suprantoro, menuturkan peran arsip sangat vital untuk mengelola Sumbu Filosofi. “[Sumbu Filosofi] dirancang 270-an tahun lalu sampai hari ini masih terpelihara dengan baik dan diakui UNESCO tentu membutuhkan dukungan arsip dan segala yang berkaitan dengan dokumen,” katanya.
Sumbu Filosofi diakui UNESCO karena memenuhi kriteria yang berbicara tentang nilai, bagaimana peradaban bisa bertahan dan berakulturasi dengan baik. “Maka, kalau berbicara tentang Sumbu Filosofi sebagai narasi, maka harus bisa sampai kepada semua orang,” katanya.
Selain kepada masyarakat Jogja, narasi ini juga perlu disampaikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Jogja, agar aktivitas wisata tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi ada pengalaman dan pengetahuan yang dibawa pulang.
“Kenapa di Malioboro ditanam pohon asem, itu mempunyai makna filosofi. Terdokumentasikan dan tersajikan dengan baik. UNESCO sudah sepakat bagaimana dalam konteks Sumbu Filosofi yang berdampak harus ada model pariwisata yang berkelanjutan,” kata dia.
Sementara, Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu, mengatakan terkait dengan pengarsipan harus ada konsolidasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya yang juga mempunyai kewenangan terkait untuk dapat mendukung. “Konsolidasi harus dimulai. TAPD [Tim Anggaran Pemerintah Daerah] harus sinkron. Saya harap ada rencana aksi daerah. Arsip budaya ini harus menjadi pelajaran masyarakat di institusi pendidikan maupun di luar pendidikan. Maka harus masuk kurikulum, lewat wisata budaya dan sebagainya,” ujarnya.
Ia juga mendorong di setiap kalurahan/kelurahan di DIY bisa memunculkan arsip budayanya masing-masing sehingga bisa dipelajari dan menjadi daya tarik. “Saya membayangkan museum terintegrasi di setiap kelurahan. Harus ada cerita berbasis filosofi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































