Perdana, Iran Terima Bayaran dari Penerapan Tarif Tol Selat Hormuz

2 hours ago 3

Warga Iran berjalan di depan lukisan raksasa mengilustrasikan kapal di Selat Hormuz yang terpampang di Teheran, Senin (20/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Wakil Juru Bicara Parlemen Iran Hamidreza Haji-Babaei mengatakan bahwa negaranya untuk kali pertama menerima pendapatan dari penerapan tarif tol terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Dikutip Al Jazeera melansir laporan Tasnim, Kamis (23/4/2026), uang dari tarif tol itu kemudian disimpang di Bank Sentral Iran. 

"Pendapatan pertama dari tol Selat Hormuz disimpan di akun Bank Sentral," kata Hamidreza.

Media selain Tasnim juga mengutip pernyataan yang sama dari Hamidreza tanpa mengelaborasinya.

Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama kapal Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di wilayah perairan tersebut. Dia mengatakan, tindakan militer AS merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui kedua negara.

"Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," kata Ghalibaf lewat akun X pribadinya, Rabu (22/4/2026), dikutip laman Al Arabiya.

Hal itu disampaikan Ghalibaf saat AS dan Iran sedang berupaya menggelar kembali negosiasi putaran kedua. Pada Selasa (21/4/2026), Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Langkah tersebut diambil Trump hanya beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran berakhir.

New York Post, mengutip sejumlah sumber di pemerintahan Pakistan, melaporkan, negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran dapat berlangsung di Islamabad dalam tiga hari ke depan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif diketahui menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang disetujui pada 7 April 2026 lalu.

"Itu mungkin," kata Trump saat dikonfirmasi New York Post soal apakah benar negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran bakal berlangsung di Pakistan dalam tiga hari ke depan.

sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti, Anadolu

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|