Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan update perkembangan pengawasan di bidang pasar modal, baik di pasar saham, obligasi (surat utang), maupun reksa dana. Tercatat, secara keseluruhan, kinerja pasar modal mengalami koreksi, imbas eskalasi perang di Timur Tengah.
“Pasar saham domestik menunjukkan pergerakan yang dinamis pada Maret 2026. Sebagaimana juga dialami oleh bursa global dan regional lainnya sebagai dampak terjadinya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan juga diikuti dengan lonjakan harga-harga komoditas energi di dunia,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan April 2026 yang digelar secara daring, Senin (6/4/2026).
OJK mencatatkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret ditutup di level 7.048,22 atau terkoreksi sebesar 14,42 persen secara month to month (mtm). Investor asing tercatat membukukan net sell di pasar saham senilai Rp 23,34 triliun (mtm).
Adapun, di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index atau ICBI ditutup pada level 433,16, terkoreksi sebesar 2,03 persen (mtm) atau 1,74 persen secara year to date (ytd).
“Seiring peningkatan persepsi risiko akibat terjadinya ketidakpastian global, investor non residen membukukan net sell di pasar SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp 21,80 triliun (mtm),” terangnya.

5 hours ago
1
















































