Pasar AS Diguncang AI dan The Fed, Investor Mulai Kehilangan Sabar

5 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar keuangan Amerika Serikat kembali menghadapi tekanan tinggi setelah laporan kinerja sejumlah raksasa teknologi memicu pergerakan saham yang sangat kontras. Di tengah euforia kecerdasan buatan (AI), investor mulai menunjukkan sikap lebih selektif terhadap perusahaan yang menggelontorkan dana besar untuk pengembangan teknologi tersebut.

Perbedaan respons pasar terlihat mencolok usai sejumlah perusahaan teknologi merilis laporan keuangan kuartalan. Microsoft menjadi bintang utama dengan lonjakan harga saham yang menghasilkan kenaikan kapitalisasi pasar harian terbesar dalam sejarah perusahaan Amerika Serikat. Sebaliknya, Apple mengalami tekanan hebat setelah prospek pendapatan kuartal berikutnya dinilai mengecewakan pelaku pasar.

Melansir The Wall Street Journal, volatilitas pasar tidak hanya dipicu oleh sektor teknologi. Aksi jual di pasar obligasi yang dipengaruhi sinyal terbaru dari Federal Reserve (The Fed) turut memperburuk sentimen dan menambah tekanan terhadap pasar saham.

Microsoft Bersinar, Apple dan Meta Terseret Turun

Microsoft mencatat lonjakan saham hingga 16%. Kenaikan tersebut menambah nilai kapitalisasi pasar perusahaan sekitar US$450 miliar, sekaligus menjadi peningkatan nilai pasar harian terbesar yang pernah dicatat perusahaan AS.

Di sisi lain, Apple harus menghadapi respons negatif investor setelah perusahaan memberikan proyeksi penjualan kuartal September yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Saham Apple anjlok 7,4%, menjadi penurunan harian terburuk sejak gejolak tarif sebelumnya.

Pergerakan ekstrem juga terjadi pada saham Amazon dan Meta Platforms.

Amazon melesat sekitar 15% setelah melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan yang semakin cepat. Sementara itu, Meta Platforms justru kehilangan sekitar 8% nilai sahamnya setelah memperkirakan arus kas bebas akan berubah negatif pada paruh kedua tahun ini.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa investor kini tidak lagi memberikan respons seragam terhadap perusahaan teknologi yang terlibat dalam perlombaan pengembangan AI.

Investor Mulai Menuntut Hasil Nyata dari Investasi AI

Chief Market Strategist dan Portfolio Manager Crossmark Global Investments, Victoria Fernandez, menilai pasar mulai kehilangan kesabaran terhadap perusahaan teknologi yang terus meningkatkan pengeluaran untuk infrastruktur AI.

Menurutnya, pelaku pasar kini tidak lagi puas hanya dengan janji pertumbuhan jangka panjang.

Investor mulai meminta bukti nyata bahwa investasi ratusan miliar dolar yang digelontorkan perusahaan-perusahaan teknologi benar-benar mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Meski demikian, belanja besar-besaran untuk pengembangan AI masih memberikan dampak positif bagi perusahaan yang berada di rantai pasok teknologi tersebut.

Produsen chip, pemasok memori, hingga perusahaan pendukung ekosistem AI masih memperoleh sentimen positif dari kebutuhan infrastruktur yang terus meningkat.

Hal itu terlihat dari Indeks PHLX Semiconductor yang berhasil ditutup menguat tipis pada Jumat, meskipun secara keseluruhan masih terkoreksi sekitar 21% sepanjang Juli.

Sinyal The Fed Memicu Tekanan Tambahan

Selain laporan keuangan perusahaan teknologi, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Volatilitas meningkat setelah konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh usai rapat kebijakan moneter pada Rabu lalu.

Setelah mempertahankan suku bunga acuannya, Warsh mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan belum diperlukan karena kenaikan imbal hasil obligasi dinilai telah membantu memperketat kondisi keuangan.

Pernyataan tersebut justru memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya keraguan investor terhadap kemampuan bank sentral menjaga inflasi tetap terkendali.

Tekanan berlanjut hingga akhir pekan ketika imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 18 bulan.

Risiko Ekonomi Masih Membayangi

Kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan maupun konsumen.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, aktivitas ekonomi dapat melambat dan berimbas pada kinerja pasar saham.

Risiko lain juga datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Kenaikan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi yang saat ini masih menjadi perhatian utama pasar.

Pada pekan ini, investor akan mencermati sejumlah agenda penting, termasuk laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.

Selain itu, laporan keuangan perusahaan konsumen besar seperti McDonald's dan Walt Disney juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi belanja masyarakat AS.

Fundamental Laba Masih Menjadi Penopang

Di tengah berbagai tekanan tersebut, kondisi fundamental perusahaan-perusahaan AS dinilai masih relatif kuat.

Pertumbuhan laba agregat emiten dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencapai sekitar 47%, menjadi laju pertumbuhan tertinggi dalam lebih dari lima tahun.

Analis pasar juga masih terus merevisi naik proyeksi laba perusahaan untuk kuartal berikutnya.

Co-Chief Investment Officer LVW Advisors, Joseph Zappia, menilai perhatian investor saat ini terlalu terfokus pada narasi AI dan pergerakan imbal hasil obligasi.

Menurutnya, ekonomi Amerika Serikat masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan banyak tanda bahwa siklus pertumbuhan saat ini telah memasuki fase yang berlebihan.

Kondisi tersebut membuat fundamental laba perusahaan tetap menjadi faktor utama yang menopang pasar, meskipun volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut seiring perkembangan sektor AI, kebijakan The Fed, dan dinamika ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|