Orang Betawi Jago Maen Pukulan untuk Jaga Diri dan Lawan Kompeni

2 weeks ago 46

Kamis 16 Jul 2026 13:19 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Sejak dulu perempuan selalu menjadi objek kejahatan. Apalagi ketika malam hari, tidak sedikit perempuan menjadi korban pelecehan di transportasi umum hingga korban penodongan. Karena itu, untuk menjaga diri di masyarakat Betawi terdahulu tradisi ‘maen pukulan’ atau pencak silat sudah mendarah daging termasuk di kalangan kaum wanita. Mereka belajar ‘maen pukulan’ dari jurus dasar sampai jurus pamungkas.

Dalam cerita-cerita rakyat Betawi kerap kali muncul jago-jago dari kaum perempuan. Mereka dengan gagah membela rakyat tertindas, menentang pemimpin yang zalim, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Salah satu pendekar silat wanita yang cukup dikenal adalah Mirah, yang memperoleh gelar ‘singa betina dari Marunda’ berkat keberanian dan kelihaiannya main giksaw. Mirah, dalam terminologi gender, bukan seorang tokoh emansipasi namun seorang pejuang dalam arti sebenarnya.

Kampung Marunda, di tepi pantai yang pernah menjadi salah satu markas balatentara Islam Mataram ketika menyerang Batavia (1628-1629), sejak dulu memiliki banyak pejuang yang bergabung dengan Mataram melawan Kompeni. Bahkan, di sini terdapat Masjid Al-Alam, yang menurut cerita dibangun oleh pasukan Falatehan ketika mengusir Portugis dari Sunda Kalapa.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|