Neraka Bocor Hantam Bumi, Pakar UGM Kasih Peringatan Bahaya

15 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Laju pemanasan global kian meningkat dengan cepat sejak puluhan tahun lalu. Ahli mengingatkan bahaya yang mengintai dengan fakta tersebut.

Laman UGM mencatat, laju pemanasan global meningkat dengan kecepatan hampir dua kali lupat dibandingkan 1970-an. Saat ini dilaporkan suhu Bumi meningkat 0,35 derajat celcius.

Peningkatan suhu Bumi ini akan memiliki dampak signifikan pada Bumi. Salah satunya es Kutub Utara yang mencair dan membuat volume air laut meningkat dan dataran rendah yang berkurang tingginya.

Selain itu juga akan ada peningkatan bencana. Sebab suhu yang tinggi akan membuat penguapan tinggi berpotensi hujan semakin besar.

"Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya," jelas pakar UGM bidang klimatologi dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, dikutip Senin (30/3/2026).

Dia menjelaskan faktor utama suhu Bumi yang meningkat karena pemanasan global. Misalnya aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil akan membuat gas rumah kaca meningkat sebagian dan radiasi Matahari sampai ke Bumi hingga lebih banyak yang diserap dibandingkan dipantuklan.

Peningkatan suhu juga membuat proses evaporasi dan transpirasi ikut meningkat. Saat banyak uap di troposfer, proses pembentukan awan semakin besar kemudian membuat intensitas hujan mengalami peningkatan.

Ini akan terjadi saat musim kemarau, yang disebut juga didorong karena adanya moonson Australia. Fenomena tersebut membuat uap air dari selatan menuju utara, daerah yang lebih tinggi karena tekanan tingginya ada di Asia yang hanya melewati Indonesia saja.

"Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau itu menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau," ungkap Emilya.

Sebagai langkah antisipasi, salah satu yang bisa dilakukan adalah mitigasi agar peningkatan suhu tidak terus terjadi yang akan membuat Bumi mengalmai kekeringan dan banyak angin kencang.

Saat kemarau panjang, masyarakat diminta melakukan regulatory harvesting yakni menangkap hujan dari atap. Selain juga bisa memperbanyak kegiatan penyimpanan dalam bentuk apapun dan bijak dalam menggunakan air.

"Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan," dia menjelaskan.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|