Resesi Seks Menggila Sudah Sampai di RI, Terungkap Alasan Sebenarnya

5 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis populasi sudah menjadi momok dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu contoh nyata bisa dilihat di Jepang yang sudah menghadapi tantangan angka kelahiran anak dan penyusutan populasi angkatan kerja sejak era 1990-an.

Secara keseluruhan, negara-negara dengan pendapatan menengah (middle-income) dan pendapatan tinggi (high-income) sudah 'berjuang' dengan penurunan demografis selama lebih dari setengah dekade. Kendati demikian, fenomena ini makin parah dan mencapai titik kritis dalam 10 tahun terakhir.

Di 195 negara, lebih dari dua per tiga rata-rata tingkat kesuburan (fertility rate) sudah berada di bawah tingkat penggantian (replacement rate) sebesar 2.1.

Sebagai informasi, replacement rate merujuk pada persentase pendapatan terakhir seseorang sebelum pensiun. Sementara itu, fertility rate merujuk pada rata-rata anak yang dilahirkan perempuan selama masa hidupnya.

Saat fertility rate berada di bawah replacement rate, stabilitas populasi untuk menunjang pertumbuhan dan perekonomian menjadi rentan.

Di 66 negara, rata-rata fertility rate terhadap replacement rate saat ini mendekat ke 1 daripada 2. Bahkan, pada beberapa negara, jumlah kelahiran anak pada setiap perempuan sudah mencapai nol.

Dalam indikator yang lebih sederhana, bisa dilihat fenomena di Korea Selatan. PBB memprediksi 5 tahun lalu akan ada 350.000 kelahiran anak (birth rate) di negara tersebut pada 2023. Kenyataannya, kelahiran anak pada periode tersebut hanya 230.000 atau kurang dari 50% dari estimasi awal.

Ada banyak faktor yang memengaruhi penurunan birth rate yang membawa ancaman krisis populasi saat ini. Financial Times melaporkan salah satu faktor baru yang perlu menjadi perhatian, yakni terkait penggunaan teknologi seperti smartphone dan media sosial.

Hampir seluruh dunia saat ini mengalami fenomena penurunan birth rate. Hingga baru-baru ini, penurunan birth rate dinilai hanya menjadi masalah bagi negara-negara kaya. Namun, belakangan fenomena ini juga mulai terlihat di negara-negara berkembang.

Bahkan, banyak negara-negara berkembang yang kini memiliki fertility rate di bawah negara-negara kaya. Pada 2023, birth rate di Meksiko turun di bawah Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Begitu pula yang terjadi di Brasil, Tunisia, Iran, dan Sri Lanka.

Masalah Nyata Krisis Populasi

Penuaan penduduk berpengaruh pada menyusutnya angkatan kerja, sehingga mengurangi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Tekanan fiskal akibat membengkaknya pengeluaran untuk pensiun dan perawatan juga menghambat investasi dalam infrastruktur, sehingga menciptakan rasa 'kemunduran' yang memicu gejolak politik.

"Penurunan fertility rate merupakan pertanyaan besar di masa ini," kata profesor ekonomi di University of Pennsylvania, Jesus Fernandez-Villaverde, dikutip dari Financial Times, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, hampir semua masalah dunia saat ini merupakan imbas dari kolapsnya angka kelahiran. "Semuanya [masalah] lain adalah turunannya," ia menuturkan.

Beberapa orang menilai populasi yang menyusut bisa membantu menanggulangi krisis perubahan iklim. Namun, studi baru-baru ini justru menunjukkan penurunan birth rate akan membawa dampak emisi yang lebih besar dalam beberapa dekade mendatang.

Pada beberapa dekade sebelumnya, fenomena penurunan fertility rate disebabkan kecenderungan pasangan ingin memiliki lebih sedikit anak. Namun, saat ini alasannya adalah lebih sedikit orang yang berpasangan.

FT melaporkan, jika tingkat pernikahan dan kohabitasi di AS tetap konstan selama satu dekade terakhir, negara tersebut akan memiliki fertility rate yang lebih tinggi saat ini dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Pakar demografi Stephen Shaw dalam laporannya mengatakan bahwa di AS dan negara-negara berpendapatan tinggi, jumlah anak dan ibu yang melahirkan relatif stabil dan bahkan meningkat. Akan tetapi, proporsi perempuan yang memiliki anak merosot tajam dalam 15 tahun terakhir.

Ada stereotipe yang muncul dan mengaitkan hal ini dengan kecenderungan perempuan memprioritaskan karir ketimbang anak. Ada juga beberapa pasangan yang memilih tidak memiliki anak meskipun sudah mapan.

Namun, dilihat dari fenomena di lebih banyak negara, penurunan kelahiran anak dan orang yang berpasangan justru lebih tajam di kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan rendah.

Susah Punya Rumah

Di negara-negara kaya termasuk AS dan Inggris, hambatan utama masyarakat membentuk keluarga dalam beberapa dekade terakhir, bertumpu pada susahnya membeli rumah.

Menurut analisis FT, setengah dari negara-negara yang mengalami penurunan fertility rate sejak 1990-an, bisa dijelaskan dari penurunan kepemilikan rumah dan meningkatnya orang dewasa yang masih tinggal dengan orang tua.

Namun, fenomena ini tak bisa dijadikan ukuran satu-satunya pada penurunan fertility rate yang melonjak tajam secara global dalam beberapa tahun terakhir.

Di kawasan Nordik, bisa dilihat penurunan fertility rate meskipun ekonomi cenderung stabil dan terjadi peningkatan orang dewasa yang tinggal sendiri, dibandingkan bersama orang tua atau teman serumah (house-mate).

Penurunan demografis baru-baru ini terjadi di negara-negara yang terpukul keras oleh krisis keuangan global maupun negara-negara yang hampir tidak terpengaruh, dan baik di Eropa Barat yang pertumbuhannya lambat maupun di Timur Tengah dan Asia Tenggara yang pertumbuhannya pesat.

Banyak yang menunjuk pada kerentanan ekonomi kaum muda. Namun, meskipun pendapatan kaum muda mencapai puncaknya lebih lambat daripada dekade sebelumnya dan kedudukan ekonomi relatif mereka telah menurun, ini adalah perubahan bertahap yang tidak sesuai dengan penurunan mendadak.

Kemungkinan faktor lainnya adalah perubahan posisi pada anak muda peremuan dan laki-laki. Perempuan saat ini relatif lebih banyak yang menempuh pendidikan hingga ke universitas daripada laki-laki.

Laki-laki muda dengan tingkat pendidikan lebih rendah saat ini juga cenderung 'kalah' penghasilan dengan perempuan. Hal ini mengubah dinamika dalam menentukan hidup berpasangan.

Ancaman Smartphone

Tak puas dengan penjelasan berbasis ekonomi, para peneliti mulai mengaitkan 'biang kerok' baru atas penurunan fertility rate di berbagai belahan dunia. Tak lain dan tak bukan adalah perangkat teknologi seperti smartphone, serta platform digital seperti media sosial yang memainkan peran penting dalam kehidupan anak muda.

Nathan Hudson dan Hernan Moscoso-Boedo dari University of Cincinnati menerbitkan sebuah makalah bulan lalu yang meneliti birth rate melalui sudut pandang peluncuran jaringan seluler 4G di AS dan Inggris.

Hasilnya, jumlah kelahiran menurun paling cepat dan pertama kali di daerah-daerah yang paling awal menerima konektivitas seluler berkecepatan tinggi. Para penulis berpendapat bahwa HP telah mengubah cara kaum muda menghabiskan waktu bersama, secara tajam mengurangi interaksi sosial tatap muka, dan menyebabkan penurunan drastis angka kelahiran mereka.

Penelitian yang digelar FT juga mengindikasikan tren serupa yang memengaruhi beberapa negara. Misalnya, Inggris, Australia, dan AS, memiliki birth rate yang cenderung stagnan pada awal 2000-an, tetapi langsung merosot tajam sejak 2007.

Indonesia Sudah 'Kena'

Tren serupa juga terjadi di Prancis dan Polandia sekitar 2009. Kemudian di Meksiko, Maroko, dan Indonesia sekitar 2012. Penurunan fertility rate yang cenderung stabil dan perlahan, kemudian menunjukkan ketajaman yang signifikan di Ghana, Nigeria, dan Senegal, pada periode 2013 dan 2015.

Semua titik perubahan ini bertepatan dengan adopsi massal smartphone di pasar lokal, sebagaimana diukur melalui pencarian Google untuk aplikasi mobile.

Di berbagai negara, tingkat kelahiran anak 'tenggelam' setelah pengenalan smartphone, terlepas dari tren apa yang terjadi sebelumnya. Makin muda kelompok usia, makin nyata penurunan tersebut. Hal ini mencerminkan intensitas dari pola penggunaan smartphone.

Melissa Kearney, profesor ekonomi di Universitas Notre Dame, mengatakan sangat mungkin lingkungan media digital modern telah memberikan dampak mendalam pada masyarakat yang menyebabkan penurunan dalam hubungan asmara.

Tesis Hudson dan Moscoso-Boedo menyorot faktor kuncinya adalah berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk bersosialisasi secara langsung. Di Korea Selatan, interaksi sosial tatap muka di kalangan dewasa muda telah berkurang setengahnya dalam 20 tahun.

"Untuk bertemu dengan seseorang yang akan Anda nikahi, Anda perlu menyaring banyak orang," kata ahli demografi Lyman Stone.

Menurutnya, jika masyarakat kurang bersosialisasi, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan pasangan.

"Jika Anda menghabiskan banyak waktu bersosialisasi dengan teman sebaya di dunia nyata, standar Anda [untuk calon pasangan] berlandaskan pada dunia nyata. Jika Anda menghabiskan waktu di Instagram, standar Anda berlandaskan pada persepsi artifisial tentang apa yang normal," ia menambahkan.

Pakar demografi asal Finlandia, Anna Rotkirch, menemukan bahwa disfungsi seksual (sexual dysfunction) cenderung lebih tinggi di kalngan pasangan-pasangan muda dengan penggunaan media sosial yang tinggi.

Ia mengatakan waktu yang dihabiskan untuk menjajal media sosial, dengan berbagai paparan gaya hidup dan nilai yang diproyeksikan di dalamnya, mempersulit anak muda untuk berkomitmen dalam hubungan romatis.

Alice Evans dari Stanford University menambahkan, makin tradisional suatu budaya dalam hal peran gender, makin besar dampak smartphone terhadap angka kelahiran.

Evans menjelaskan apa yang ia sebut sebagai "lompatan budaya". Menurutnya, Instagram dan TikTok memungkinkan perempuan muda di seluruh dunia untuk melewati otoritas tradisional.

"Hal ini meningkatkan harapan mereka terhadap suatu hubungan dengan cara yang seringkali tidak siap dihadapi oleh rekan-rekan pria mereka," Evans menuturkan.

Riset FT juga menunjukkan kesenjangan ideologis yang muncul antara pria dan wanita muda di era smartphone, yang terkonsentrasi di kalangan mereka yang tidak berpendidikan hingga universitas. Di antara kelompok ini, perempuan telah bergeser ke kiri, sedangkan laki-laki tidak, dan angka pasangan serta kelahiran anjlok.

Salah satu kemungkinannya adalah media sosial mengintensifkan dan memperkuat reaksi masyarakat terhadap tren seperti kesulitan memiliki rumah atau perubahan posisi ekonomi pria dan wanita.

Hal ini membuat proses yang berlangsung selama beberapa dekade terasa seperti gelombang tiba-tiba, memperkuat kekhawatiran ekonomi, dan menciptakan rasa tidak aman dan cemas yang terus-menerus yang dapat bertindak sebagai pencegah.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|