Model Pemasaran Lama Dibahas di Bedah Buku DPAD

7 hours ago 1

Model Pemasaran Lama Dibahas  di Bedah Buku DPAD Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, saat memaparkan materi dalam kegiatan bedah buku. - Kiki Luqman

Pelaku usaha mikro dan kecil di Padukuhan Onggopatran, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, masih banyak mengandalkan pemasaran tradisional hingga promosi sederhana melalui status WhatsApp. Kondisi itu mendorong warga dan pelaku UMKM di wilayah tersebut diajak beradaptasi dengan pola pemasaran digital agar pasar produk lokal bisa semakin luas.

Dorongan itu mengemuka dalam kegiatan bedah buku Pedoman Praktis Usaha Mikro dan Kecil di Era Milenial yang digelar di Gedung PAUD Tunas Bangsa, di Dusun Onggopatran RT 01, Selasa (5/5). Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro dan Pustakawan Ahli Utama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Budioyono.

Dukuh Onggopatran Suprapti Rejeki mengatakan sebagian besar pelaku UMKM di wilayahnya masih mengandalkan pola pemasaran lama. Produk warga yang cukup beragam pun belum banyak dipasarkan secara digital.

“Namun usaha tersebut belum melakukan pemasaran dengan era digital atau era milenial,” ujarnya.

Ia menjelaskan produk warga meliputi olahan sule, telur asin, jajanan pasar, hingga hasil pertanian dan peternakan. Selama ini, produk tersebut dipasarkan dengan cara dititipkan di warung atau dijual di pasar tradisional.

“Kalau yang digital baru sedikit, paling lewat status WA, misalnya menawarkan peyek atau cilok,” katanya.

Menurut Suprapti, pemasaran produk warga selama ini masih berputar di sekitar wilayah lokal seperti di Pasar Piyungan, Pasar Wage, hingga Pasar Condongcatur. Karena itu, kegiatan bedah buku diharapkan dapat membuka wawasan pelaku usaha kecil agar mampu menjangkau Harian Jogja/Kiki Luqman Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, saat memaparkan materi dalam kegiatan bedah buku. pasar lebih luas.

“Harapannya nanti pemasaran bisa lebih luas, tidak hanya di Piyungan atau Banguntapan, tapi bisa sampai luar Jogja,” ungkapnya.

Diajak Beradaptasi

Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro mengatakan kegiatan bedah buku menjadi cara untuk melihat langsung tantangan masyarakat di wilayah pedesaan, terutama terkait pengembangan usaha kecil. “Dengan adanya bedah buku di daerah seperti ini bisa terjun langsung melihat situasi di lapangan dan kondisi masyarakat kita,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola manajemen usaha dan pemasaran agar UMKM di wilayah pedesaan tidak tertinggal.

“Sekarang kita harus bisa bergeser dari pola manajemen dan pemasaran lama ke era digitalisasi supaya UMKM punya daya saing,” ucapnya.

Nur menyebut di Padukuhan Onggopatran sebenarnya telah muncul sejumlah embrio UMKM yang potensial untuk berkembang. Melalui buku yang dibedah tersebut, warga diharapkan mendapatkan panduan praktis dalam menjalankan usaha berbasis digital.

“Di buku itu ada panduan bagaimana berusaha di era digitalisasi,” katanya.

Di sisi lain, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY Budioyono menilai banyak usaha kecil sulit berkembang karena belum memiliki pemahaman memadai terkait manajemen usaha.

“Usaha-usaha kecil di sini sifatnya masih stagnan, karena mereka belum punya pengalaman bagaimana merencanakan usaha, mengatur anggaran, sampai menyelesaikan persoalan usaha. Semoga dengan bedah buku ini, mereka punya ilmu baru yang bisa diterapkan dalam pemasaran,” ujarnya.

Menurut dia, perkembangan teknologi sebenarnya membuat promosi produk menjadi jauh lebih mudah dan murah dibanding sebelumnya. Pelaku usaha cukup memanfaatkan telepon genggam untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli. “Sekarang dengan HP itu produk bisa dipasarkan lebih mudah. Tinggal dipotret, diunggah, lalu disampaikan ke calon pembeli,” katanya. (Adv)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|