Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik, saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Pencegahan dan Serba-serbi Penyakit Degeneratif di Balai Padukuhan Munggur, di Ngipak, Karangmojo, Kamis (7/5). - Harian Jogja /David Kurniawan
GUNUNGKIDUL - Ancaman penyakit degeneratif menjadi perhatian dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Balai Kalurahan Munggur, di Ngipak, Karangmojo, Kamis (7/5). Warga diajak lebih peduli terhadap pola hidup sehat karena penyakit jenis ini dinilai dapat menyerang organ tubuh secara perlahan tanpa disadari.
Wakil Ketua DPRD DIY Imam Taufik menilai penyakit degeneratif harus diwaspadai karena dampaknya sangat serius meski tidak menular. Dalam kegiatan bedah buku berjudul Pencegahan dan Serba-serbi Penyakit Degeneratif, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
“Penyakit degeneratif tidak menular, tapi harus diwaspadai karena bahaya dan sangat mematikan. Disebabkan penyakit ini dapat menggerogoti fungsi organ dalam tubuh,” kata Gus Im, sapaan akrabnya, Kamis siang.
Ia menjelaskan ada dua langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah ancaman penyakit tersebut. Salah satunya melalui aktivitas fisik rutin agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan buku yang membahas berbagai jenis penyakit degeneratif beserta penyebab dan cara penanganannya. Imam berharap materi yang diberikan tidak hanya berhenti saat acara berlangsung, tetapi juga dapat dipelajari kembali di rumah.
“Bisa dipelajari lebih detail dengan membaca buku yang telah diberikan,” katanya.
Ia menambahkan kegiatan bedah buku juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi di masyarakat. Menurut dia, tingkat membaca masyarakat di DIY, khususnya di Gunungkidul, sudah Harian Jogja/David Kurniawan Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik, saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Pencegahan dan Serba-serbi Penyakit Degeneratif di Balai Padukuhan Munggur, di Ngipak, Karangmojo, Kamis (7/5).
“DIY, khususnya Gunungkidul tingkat bacanya sudah baik, tapi tetap harus ditingkatkan karena secara persentase masih kecil. Meski secara peringkat sudah di atas rata-rata nasional,” katanya.
Memudahkan Akses
Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Hari Setyawan mengatakan kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama dengan DPRD DIY. Program bedah buku sengaja digelar hingga tingkat padukuhan agar masyarakat lebih mudah mengakses bahan bacaan.
“Harapannya tidak hanya membaca, tapi juga bisa memahami isi dari bukunya,” kata Hari.
Menurut dia, kesibukan masyarakat sehari-hari membuat budaya membaca perlahan ditinggalkan. Karena itu, kegiatan perpustakaan.
“Masyarakat sangat sibuk dengan aktivitasnya, maka jarang ke perpustakaan. Untuk memudahkan akses, dilaksanakanlah bedah buku ke RT, RW maupun padukuhanpadukuhan guna memberikan kemudahan akses dalam literasi,” katanya. Salah seorang peserta, Riyanto, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai penyakit degeneratif setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Ia menilai isi buku yang dibagikan cukup mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Ternyata dari buku ini juga diketahui bahwa asal dari penyakit bermula dari perilaku manusia sendiri. Saya kira, bukunya sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan bisa dipergunakan pencegahan demi kesehatan,” katanya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































