Harianjogja.com, JOGJA— Mobil listrik atau electric vehicle (EV) dikenal memiliki kabin yang lebih senyap dan minim getaran mesin. Karakteristik tersebut sempat membuat kendaraan listrik dianggap lebih nyaman bagi penumpang yang mudah mengalami mabuk perjalanan.
Namun, pengalaman setiap penumpang bisa berbeda. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa kondisi tertentu pada kendaraan listrik dapat meningkatkan risiko atau memperparah gejala mabuk perjalanan pada sebagian orang. Salah satu penjelasannya berkaitan dengan cara otak memproses gerakan kendaraan.
William Emond, peneliti doktoral di Université de Technologie de Belfort-Montbéliard, menjelaskan bahwa mabuk perjalanan dapat terjadi ketika gerakan yang diperkirakan otak tidak sesuai dengan gerakan yang benar-benar dirasakan tubuh.
Kondisi tersebut dikenal sebagai neural mismatch atau ketidaksesuaian informasi saraf. Ketika perbedaan antara perkiraan dan pengalaman gerak berlangsung, tubuh dapat merespons dengan berbagai gejala mabuk perjalanan, seperti mual dan pusing.
Penelitian Emond dan sejumlah peneliti lainnya pada 2026 juga menguji mabuk perjalanan dalam skenario perjalanan kendaraan listrik dengan pola berhenti dan berjalan. Studi tersebut menggunakan 30 peserta dan menempatkan mereka di kursi penumpang depan kendaraan listrik selama perjalanan uji.
Respons Mobil Listrik Bisa Memengaruhi Penumpang
Salah satu hal yang membedakan pengalaman berkendara EV dengan mobil bermesin pembakaran internal adalah karakter respons kendaraan. Akselerasi dan perlambatan pada mobil listrik dapat terasa berbeda bagi penumpang, terutama ketika perubahan gerak berlangsung cepat atau kurang halus.
Pengereman regeneratif menjadi salah satu karakteristik yang banyak dibahas. Sistem tersebut memanfaatkan energi kinetik ketika kendaraan melambat untuk menghasilkan energi listrik yang kemudian dikembalikan ke baterai.
Pada kondisi tertentu, perubahan perlambatan yang terasa mendadak dapat membuat tubuh penumpang harus terus menyesuaikan diri dengan gerakan kendaraan. Ed Kim, Presiden sekaligus Kepala Analis AutoPacific, sebelumnya menjelaskan bahwa beberapa model Tesla dapat memberikan respons pengereman yang terasa sangat cepat dan mendadak.
Meski demikian, pengereman regeneratif tidak berarti selalu menyebabkan mabuk perjalanan. Efeknya dapat bergantung pada karakter kendaraan, pengaturan sistem, gaya mengemudi, serta sensitivitas masing-masing penumpang.
Mabuk perjalanan juga tidak sebatas rasa mual. Gejalanya dapat berupa sakit kepala, pusing, keringat dingin, mudah tersinggung, hingga kelelahan. Tingkat keparahannya pun tidak sama pada setiap orang.
Mengapa Gerakan Lambat Bisa Memicu Mabuk?
Profesor psikologi University of Westminster, John Golding, menjelaskan bahwa gerakan dengan frekuensi rendah, seperti ayunan atau guncangan yang berlangsung lambat dan berulang, dapat lebih mudah memicu mabuk perjalanan pada orang yang rentan.
Persoalannya kembali pada informasi yang diterima tubuh. Ketika seseorang duduk sebagai penumpang, tubuh tidak selalu bergerak dengan cara yang sama seperti kendaraan. Pada saat bersamaan, mata memberikan informasi bahwa lingkungan di luar sedang bergerak.
Perbedaan antara sinyal visual dan sensasi gerak dari tubuh itulah yang dapat membuat sistem saraf mengalami konflik informasi. Pada orang yang sensitif, kondisi tersebut kemudian dapat memicu gejala mabuk perjalanan.
Hal serupa sebenarnya tidak hanya terjadi pada mobil listrik. Mobil dengan mesin pembakaran internal juga dapat membuat penumpang mabuk perjalanan. Perbedaannya, karakteristik tertentu pada EV dapat menghasilkan pola gerakan yang dirasakan berbeda sehingga pada sebagian penumpang keluhan bisa lebih mudah muncul.
Layar Hiburan Besar Juga Bisa Menjadi Masalah
Selain gerakan kendaraan, kebiasaan penumpang selama perjalanan ikut berpengaruh. Menatap layar atau membaca ketika kendaraan bergerak dapat memperbesar ketidaksesuaian informasi yang diterima mata dan tubuh.
Mata penumpang yang terus melihat objek relatif diam, seperti layar ponsel atau layar hiburan, mendapatkan informasi yang berbeda dengan tubuh yang merasakan kendaraan sedang bergerak. Kondisi ini dapat memperburuk gejala pada orang yang memang rentan mengalami mabuk perjalanan.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena sejumlah kendaraan modern menawarkan layar hiburan berukuran besar di kabin belakang. Salah satunya BMW i7 yang dilengkapi layar teater berukuran 31 inci untuk penumpang belakang.
Layar tersebut tentu dirancang untuk memberikan pengalaman hiburan selama perjalanan. Namun, bagi penumpang yang mudah mabuk, menonton film atau melakukan aktivitas yang membuat mata terus terpaku pada layar justru berpotensi memperburuk ketidaknyamanan.
Cara Mengurangi Mabuk Perjalanan di Mobil Listrik
Mabuk perjalanan tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa langkah sederhana dapat dicoba untuk mengurangi kemungkinan munculnya gejala.
Mendapatkan udara segar dan mengurangi aktivitas yang membuat mata terpaku pada benda di dalam kendaraan menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan. Penumpang yang mulai merasa tidak nyaman juga dapat mengalihkan pandangan ke luar kendaraan.
Natascha Tuznik dari University of California Davis menyarankan orang yang rentan mengalami mabuk perjalanan untuk melihat cakrawala ketika berada di laut. Saat berada di dalam mobil, ia menyarankan memilih kursi depan agar penumpang dapat melihat jalan dan arah kendaraan.
Mengonsumsi sedikit jahe juga termasuk salah satu cara yang disebut dapat membantu meredakan rasa mual pada sebagian orang. Namun, respons terhadap cara tersebut tidak sama pada setiap individu.
Untuk pengguna mobil listrik, gaya berkendara juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketidaknyamanan. Penggunaan pengereman regeneratif secara lebih halus dapat membantu menghindari perubahan gerakan yang terasa terlalu mendadak.
Selain itu, tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan karakter kendaraan yang berbeda. Sebagian penumpang mungkin merasakan gejala berkurang setelah terbiasa dengan pola akselerasi dan perlambatan kendaraan.
Pada akhirnya, mobil listrik bukan satu-satunya penyebab mabuk perjalanan. Sensitivitas tubuh, pola gerakan kendaraan, aktivitas penumpang, serta ketidaksesuaian informasi visual dan gerak dapat sama-sama berperan. Karena itu, cara yang efektif bagi satu penumpang belum tentu memberikan hasil serupa bagi orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































