
Menteri Keuangan Purbaya. - Antara
Harianjogja.com, JOGJA— Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp65 triliun kepada 14,9 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga Juni 2026. Program tersebut menyasar pelaku usaha yang sebelumnya belum memperoleh akses layanan perbankan.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat membuka Pasar Rakyat Usaha Mikro di Alun-Alun Kidul Jogja, Kamis sore. Menurutnya, perluasan akses pembiayaan menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat fondasi ekonomi masyarakat melalui sektor usaha mikro.
Pembiayaan Menjangkau Pelaku UMKM yang Belum Terlayani Perbankan
Purbaya memberikan apresiasi terhadap kinerja PIP yang sejak 2017 terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro.
"Saya apresiasi untuk PIP sejak 2017 sampai Juni 2026 pemerintah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp65 triliun kepada 14,9 juta pelaku usaha yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan," kata Menkeu saat membuka Pasar Rakyat Usaha Mikro di Alun Alun Kidul Yogyakarta, Kamis sore.
Menurut dia, dukungan permodalan menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing UMKM. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 66,5 juta pelaku UMKM, dengan sebagian besar merupakan usaha mikro.
UMKM Menjadi Penopang Ekonomi Nasional
Purbaya menjelaskan lebih dari 67 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan usaha mikro. Kelompok usaha tersebut memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
"Lebih dari 67 persen UMKM di antaranya merupakan usaha mikro, mereka menyumbang lebih dari 60 persen PDB (produk domestik bruto) dan menyerap hampir 117 juta tenaga kerja," katanya.
Kontribusi tersebut menunjukkan UMKM masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Usaha Mikro Paling Cepat Terdampak Gejolak Ekonomi
Meski memiliki peran strategis, Purbaya menilai pelaku usaha mikro dan ultra mikro juga menjadi kelompok yang paling rentan ketika menghadapi tekanan ekonomi.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku, penurunan permintaan, gangguan distribusi, maupun kebutuhan mendadak dapat langsung memengaruhi keberlangsungan usaha mereka.
"Ketika harga bahan baku naik, permintaan turun distribusi terganggu atau ada kebutuhan mendadak mereka tidak punya bantalan yang tebal," katanya.
Bunga Pinjaman Turun Menjadi Delapan Persen
Selain memperluas pembiayaan, pemerintah juga menurunkan bunga pinjaman melalui PIP untuk meringankan beban pelaku usaha mikro.
Purbaya menyebut bunga pinjaman yang sebelumnya mencapai 22,5 persen kini telah diturunkan menjadi delapan persen agar akses permodalan semakin mudah dijangkau masyarakat.
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Modal Penguatan UMKM
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang menurutnya tetap menunjukkan kinerja positif.
Ia menyebut ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 tumbuh 5,61 persen, tertinggi sejak 2014. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jogja pada periode yang sama mencapai 5,8 persen.
Meski demikian, Purbaya menegaskan masyarakat lebih merasakan manfaat ekonomi dari kondisi usaha sehari-hari dibanding angka statistik semata.
"Angka-angka itu penting, tetapi masyarakat tidak memikirkan statistik ekonomi, mereka tanyanya warung ramai nggak, hasil tani ada pasarnya nggak, penghasilan cukup atau nggak. Itulah kenapa APBN 2026 diarahkan untuk mendukung delapan agenda prioritas nasional termasuk pemberdayaan UMKM," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































