Mengintip Rumah Natural Building di Cimahi: Perpaduan Tanah, Jerami, dan Bertulang Bambu

4 hours ago 3

Rumah dua lantai milik Misbah dan Fitria di Jalan Pesantren, RT 02/08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat yang mengusung natural building, konsep pembangunan yang memanfaatkan material alami dan lokal dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Pasangan suami istri, Misbah (42 tahun) dan Fitria Ivana Pratita (42) mendobrak stereotip membangun rumah harus menggunakan semen, besi, dan bata. Mereka membangun rumah dengan bahan tak lazim sebagaimana digunakan masyarakat kebanyakan.

Rumah dua lantai milik Misbah dan Fitria di Jalan Pesantren, RT 02/08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat yang mengusung natural building, konsep pembangunan yang memanfaatkan material alami dan lokal dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan.

Bahan utamanya tanah dan bambu plus jerami serta pasir. Tak ada struktur besi dan beton, pun tanpa menggunakan bata. Namun rumah tanah yang berada di kebun pribadi itu tetap berdiri kokoh, bahkan disebut tahan gempa.

"Awalnya saya ingin punya rumah dengan material lokal dan ramah lingkungan. Dampak lingkungan rendah, kemudian kita ingin punya bangunan yang lebih sehat karena tanah bisa menyerap kelembaban, meredam suara, dan menjaga suhu ruangan," ujar Misbah kepada Republika, Sabtu (12/9/2026).

Ide dan ketertarikan terhadap konsep natural building Misbah terhadap rumah tanah dimulai tahun 2018. Saat itu, Misbah bereksperimen membuat bangunan berukuran kecil menggunakan material alami.

Ketertarikannya semakin besar hingga ia memutuskan memperdalam pengetahuan mengenai teknik pembangunan berbasis material alami. Keseriusan itu bahkan membawanya belajar ke Austria untuk mempelajari natural building secara lebih mendalam.

Sepulang dari sana, Misbah merasa lebih percaya diri untuk menerapkan pengetahuannya dalam membangun rumah sendiri. Pembangunan rumah berlangsung pada 2023 hingga 2024 atau sekitar satu tahun. Prosesnya melibatkan tukang, relawan, dan teman-temannya sebagai arsitek dari beberapa negara.

Campuran tanah, pasir, serta jerami dengan takaran yang sudah dihitung Misbah secara rinci dan presisi, menggantikan racikan semen, pasir, dan air yang lazim menjadi material utama dinding rumah. Sementara itu, besi beton sebagai tulang bangunan digantikan bambu yang sifatnya lebih lentur dan fleksibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|