
Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik (berdiri) saat menjadi narasumber di acara bedah buku yang berlangsung di Balai Padukuhan Dayakan 2, Kemiri, Tanjungsari, Rabu (20/5)./ Harian Jogja - David Kurniawan
GUNUNGKIDUL - Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5). Kegiatan ini tidak hanya untuk peningkatan budaya membaca, tetapi juga sebagai upaya peningkatan kesejahteraan di masyarakat.
Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik, mengatakan tujuan utama bedah buku yang digelar yakni untuk meningkatkan minat baca di masyarakat. Karena itu, dilaksanakan program bedah buku yang diselenggarakan di berbagai wilayah di DIY, salah satunya di Gunungkidul.
“Agenda bedah buku diselenggarakan di seluruh DIY,” kata pria yang akrab disapa Gus Im, Rabu.
Diharapkan kegiatan ini tidak hanya untuk meningkatkan budaya literasi di masyarakat. Pasalnya, dengan membaca buku juga bisa menambah pengetahuan dan wawasan yang dimiliki.
Menurut dia, buku merupakan jendela ilmu bagi yang membacanya. Sesuai dengan tagline Mari Membaca, Mari Berkarya, maka bisa meningkatkan pendapatan masyarakat lewat buku yang dibaca.
“Temanya tentang budi daya bawang merah. Jadi, buku yang diterima oleh para peserta bisa untuk belajar terus mempraktikannya. Saya yakin, kalau berhasil, maka bisa meningkatkan pendapatan di masyarakat karena budi daya dengan biji diyakini memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik,” katanya.
Gus Im menjelaskan, bedah buku ini tidak hanya memberikan wawasan berkaitan dengan penanaman bawang merah. Namun, juga ada ahli yang didatangkan untuk memaparkan secara langsung tentang budi daya agar dapat berhasil sehingga dapat menambah penghasilan.
“Ada proses yang dilalui. Membaca buku bisa memberikan inspirasi untuk kemudian mempraktikkannya. Jadi, ada manfaat ganda dalam penyelenggaraan bedah buku,” katanya.
Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan bedah buku terselenggara berkat kerja sama dengan DPRD DIY untuk meningkatkan minat baca di masyarakat.
“Harapannya bisa menjadi cikal bakal gerakan wajib membaca. Minimal sehari membaca kurang lebih 15 menit karena kegiatan yang baik ini bisa memberikan inspirasi bagi anak maupun anggota keluarga lainnya,” kata Hadi.
Dia mengungkapkan, budaya membaca dan menulis juga bisa mengurangi risiko kepikunan sehingga dapat memperpanjang usia harapan hidup.
“Ada penelitian di Jepang mengatakan dengan rutinitas menulis dan membaca buku minimal sepuluh menit dalam sehari bisa mengurangi risiko kepikunan,” katanya.
Salah seorang peserta bedah buku, Beni Setyawan, mengaku senang dengan program bedah buku yang diselenggarakan di Balai Padukuhan Dayakan 2. Pasalnya, kegiatan sangat bermanfaat dikarenakan dapat memberikan wawasan dan inspirasi berkaitan dengan budidaya bawang merah di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas sebagai petani.
“Ilmu dalam buku yang dibaca bisa dipraktikkan agar panen bawang merah meningkat sehingga dapat berdampak terhadap penghasilan para petani,” katanya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































