Macron Meradang, Buku Sekolah Prancis Sebut Yahudi Korban Badai Al-Aqsa Pemukim

1 month ago 20

Presiden Prancis Emmanuel Macron.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS— Penarikan buku kurikulum pendukung sekolah oleh penerbit Prancis ternama Hachette bukanlah sekadar tindakan teknis untuk memperbaiki kesalahan cetak, melainkan puncak dari konflik politik dan budaya yang mencapai Istana Élysée.

Dikutip dari Aljazeera, Ahad (18/1/2026), kasus yang meledak setelah korban tewas dari pihak Israel dalam Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober digambarkan sebagai pemukim, membuka pintu lebar-lebar bagi pertanyaan mendalam tentang batas-batas kekuasaan dalam penyusunan sejarah sekolah, serta dominasi sayap kanan ekstrem atas penerbit-penerbit besar.

Warga negara atau pemukim?

Kepada Licra, krisis ini bermula ketika Asosiasi Internasional untuk Melawan Rasisme dan Anti-Semitisme yang ditujukan untuk siswa sekolah menengah atas, menggambarkan Objectif Bac dalam buku Objektif Bac (korban tewas Israel dalam serangan itu) sebagai pemukim Yahudi.

Istilah pemukim Yahudi menimbulkan kejutan. Hal ini karena dalam buku itu istilah tersebut merujuk pada warga negara Israel yang umumnya digunakan dalam lingkaran, negara, dan organisasi yang tidak mengakui Israel.

Sedangkan kata pemukim secara eksklusif digunakan untuk penduduk permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem.

Namun, penggunaan istilah tersebut untuk menggambarkan penduduk di wilayah dalam Garis Hijau dianggap oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai pemalsuan fakta dan penafsiran sejarah yang menyimpang.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|