REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pagi itu, suara Alquran terdengar dari gawai seorang anak. Bukan dari mushaf yang terbuka di pangkuan, melainkan dari layar kecil yang memantulkan cahaya animasi. Bibir tokoh kartun itu bergerak perlahan. Huruf-huruf suci mengalir. Ada tajwid di sana. Ada makhraj yang dijaga dengan khidmat.
Zaman memang berubah. Tetapi suara wahyu selalu mencari jalannya sendiri.
Di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, sekelompok anak muda dan dosen mencoba menapaki jalan itu. Mereka meluncurkan Animasi Murottal, A-Mur, sebuah ikhtiar sederhana yang mempertemukan teknologi, dakwah, dan semangat belajar. Peluncurannya berlangsung dalam pembukaan Pesantren Ramadhan Rohis Indonesia keempat di Masjid Agung Jawa Tengah.
Teknologinya tidak main-main. Metode live shot to animation mengubah rekaman murottal pelajar menjadi karakter animasi tiga dimensi. Gerak bibirnya presisi. Makharijul hurufnya dijaga. Bahkan sentuhan kecerdasan buatan ikut membantu.
Namun sesungguhnya yang lebih penting bukanlah teknologi itu sendiri. Melainkan niat di baliknya.
Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono, menyebut A-Mur sebagai kolaborasi keilmuan dan dakwah. Sebuah upaya agar belajar Alquran tidak berhenti pada teori. Ia harus hidup. Ia harus hadir dalam keseharian.
Para penelitinya datang dari Pusat Studi Computer Science in Arts and Culture. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer ikut turun tangan. Mereka menggelar lokakarya, mengajak siswa menjadi kontributor. Ada proses belajar di sana. Ada jejak kebersamaan.
Ketua tim pengembangnya, Edy Mulyanto, memilih animasi tiga dimensi dan kecerdasan buatan karena memahami satu hal sederhana: generasi muda hari ini lebih akrab dengan visual.
Maka Alquran pun didekatkan lewat bahasa zaman.
Bukan untuk menggantikan mushaf. Bukan pula untuk mengurangi khidmatnya. Tetapi agar benih cinta kepada Alquran tumbuh sejak dini, di hati Generasi Z dan Alpha yang hidup di tengah banjir layar.
A-Mur kini hadir di ruang-ruang digital. Di YouTube. Di TikTok. Di Instagram. Bahkan menjelang azan Magrib, ia menyapa pemirsa lewat layar televisi.
Di tempat lain, langkah kecil yang serupa juga terjadi.
Di kantor pusat Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, sebanyak seribu mushaf Alquran diserahkan oleh Yayasan Muslim Sinar Mas. Wakaf itu bukan sekadar angka. Ia adalah undangan sunyi agar umat kembali membuka halaman-halaman wahyu.
Ketua yayasan, Saleh Husin, berharap mushaf-mushaf itu memperluas akses umat terhadap Alquran. Terutama di bulan Ramadhan, ketika banyak hati mencari kejernihan.
Namun ia juga mengingatkan satu hal penting: membaca saja tidak cukup. Kita perlu menafsirkan. Kita perlu merujuk pada para ulama yang menjaga tradisi ilmu.
Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, menerima mushaf itu sebagai amanah. Nantinya ia akan sampai ke masjid, sekolah, dan komunitas. Menyusuri negeri yang luas. Dari kota hingga pulau-pulau terluar.
sumber : Antara

1 hour ago
1
















































