Lomba Lukis DIY-Kyoto Digelar di Sleman, 20 Pelajar Jadi Wakil DIY

3 hours ago 5

Lomba Lukis DIY-Kyoto Digelar di Sleman, 20 Pelajar Jadi Wakil DIY

Foto ilustrasi Siswa Sekolah Dasar - Foto dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, SLEMAN— Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman kembali menggelar Lomba Lukis Anak DIY-Kyoto 2026. Sebanyak 20 peserta terbaik akan dipilih dari empat jenjang pendidikan untuk mewakili Kabupaten Sleman dalam lomba tingkat DIY.

Lomba Lukis Anak DIY-Kyoto 2026 dijadwalkan berlangsung di Museum Gunungapi Merapi, Sleman, pada Minggu (23/8/2026). Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB.

Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dekhi Nugroho, mengatakan lomba terbuka bagi peserta didik yang berdomisili di Kabupaten Sleman.

Peserta berasal dari jenjang taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), serta sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK). Peserta didik penyandang disabilitas juga dapat mengikuti perlombaan tersebut.

Dari setiap jenjang pendidikan akan dipilih lima peserta terbaik. Dengan demikian, total terdapat 20 peserta yang nantinya menjadi wakil Sleman untuk mengikuti tahapan lomba tingkat DIY.

"Tahun ini lomba mengangkat tema 'Lingkungan: Aku, Dia dan Mereka'. Peserta diberikan kebebasan menerjemahkan tema tersebut melalui karya yang menggambarkan lingkungan alam, sosial, buatan, maupun budaya," kata Dekhi dikonfirmasi, Selasa (11/8/2026).

Tema Lomba Lukis DIY-Kyoto 2026

Dekhi menjelaskan tema "Lingkungan: Aku, Dia dan Mereka" memberikan ruang yang cukup luas bagi peserta untuk menuangkan gagasan ke dalam karya.

Menurutnya, lingkungan tidak sebatas persoalan alam. Lingkungan juga mencakup hubungan antarmanusia, berbagai hasil karya manusia, serta nilai dan norma yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Adat dan kesenian yang hidup di tengah masyarakat juga menjadi bagian dari lingkungan yang dapat diterjemahkan peserta melalui karya seni lukis.

Untuk menentukan peserta terbaik, dewan juri akan menilai karya berdasarkan empat aspek. Keempat aspek tersebut meliputi ide, kesesuaian dengan tema, teknik, dan keunikan karya.

Panitia menyediakan kertas gambar berukuran A3 untuk digunakan peserta selama perlombaan. Sementara itu, peralatan melukis, media pewarna, dan alas gambar harus disiapkan oleh masing-masing peserta.

Terdapat pula sejumlah aturan yang harus dipatuhi peserta. Selama lomba berlangsung, peserta dilarang menggunakan telepon seluler, perangkat elektronik, maupun media digital sebagai alat bantu dalam menghasilkan karya.

Orang tua, guru, maupun pendamping juga tidak diperbolehkan memasuki area lomba. Ketentuan tersebut diterapkan agar peserta dapat berkonsentrasi dan menghasilkan karya secara mandiri.

Peserta Disabilitas Dapat Pendampingan

Khusus peserta penyandang disabilitas, panitia memberikan sejumlah penyesuaian. Peserta dapat didampingi satu orang guru atau pendamping sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Selain pendampingan, peserta penyandang disabilitas juga memperoleh tambahan waktu selama 30 menit untuk menyelesaikan karya.

Lomba tersebut tidak hanya ditujukan sebagai kompetisi bagi anak-anak. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan bakat, kreativitas, imajinasi, serta kemampuan mengekspresikan gagasan melalui seni lukis.

Lebih jauh, Lomba Lukis Anak DIY-Kyoto merupakan bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Pemerintah Daerah DIY dengan Kyoto Prefecture, Jepang.

Kerja sama tersebut sebelumnya telah diwujudkan melalui sejumlah kegiatan pertukaran budaya. Beberapa di antaranya berupa pengiriman misi kesenian, pertukaran tenaga ahli kebudayaan, serta Pameran Lukisan Anak DIY-Kyoto.

Karya terbaik dari tahapan lomba di Sleman nantinya akan menjadi bagian dari proses seleksi untuk mewakili DIY dalam Pameran Lukisan Anak DIY-Kyoto yang digelar di Kyoto, Jepang.

Melalui kegiatan tersebut, kreativitas anak-anak Sleman tidak hanya mendapatkan ruang untuk berkembang di tingkat daerah. Karya mereka juga berpeluang menjadi bagian dari diplomasi budaya yang memperkenalkan kreativitas generasi muda DIY di tingkat internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|