Libur Sekolah Dongkrak Okupansi Hotel DIY, Tembus 80 Persen

14 hours ago 6

Libur Sekolah Dongkrak Okupansi Hotel DIY, Tembus 80 Persen

Foto ilustrasi hotel. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Libur sekolah 2026 menjadi momentum positif bagi industri perhotelan dan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat tingkat okupansi hotel selama periode 17–29 Juni 2026 mencapai 75% hingga 80%, atau meningkat sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di balik meningkatnya jumlah tamu tersebut, pelaku usaha hotel justru menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya operasional yang mencapai 15% hingga 20%. Kondisi itu membuat pengelola hotel harus menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo, mengatakan kenaikan okupansi selama musim libur sekolah belum diikuti peningkatan keuntungan secara signifikan. Pasalnya, biaya perawatan hotel, harga bahan pokok, dan berbagai komponen operasional lainnya terus mengalami kenaikan.

Meski demikian, menurut Deddy, sebagian besar anggota PHRI DIY memilih tidak menaikkan tarif kamar karena mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang masih menekan daya beli wisatawan.

"[Wisatawan] dari Jawa Timur, Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Palembang, Lampung. Didominasi rombongan keluarga atau perusahaan," ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan, hotel budget, mulai dari penginapan nonbintang hingga hotel berbintang dua, juga mencatat peningkatan okupansi sekitar 10% hingga 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, rata-rata lama menginap wisatawan masih relatif stagnan, yakni mendekati dua hari.

"Liburan kali ini tidak ada pergeseran, semua merata hotel bintang dan budget, bila homestay kita belum tahu," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, menyampaikan jumlah kunjungan wisatawan selama libur sekolah tahun ini juga menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Meski belum memiliki data final, GIPI DIY memperkirakan kenaikan kunjungan berada pada kisaran 5% hingga 10%.

Menurut Bobby, meningkatnya kunjungan wisatawan tidak lepas dari semakin mudahnya akses menuju DIY setelah beroperasinya jalan tol. Selain itu, kehadiran berbagai destinasi wisata baru yang viral di media sosial turut menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta.

"Kalau yang grup dengan bus memang belum seperti dulu yang sangat mendominasi, namun tren libur anak beserta keluarganya lebih meningkat," paparnya.

Bobby juga melihat adanya perubahan pola pemilihan akomodasi selama musim libur sekolah. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, banyak keluarga lebih memilih hotel budget maupun homestay dengan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan hotel berbintang.

"Seiring belum menguatnya daya beli pasar maka hotel-hotel alternatif menjadi pilihan keluarga dan wisatawan tentunya untuk menyesuaikan budget. Hotel-hotel dengan konsep 'family hotel' juga terlihat terdampak positif," jelasnya.

Ia menambahkan, rata-rata lama tinggal wisatawan di DIY saat ini berkisar tiga hari dua malam. Meski kunjungan pada akhir pekan masih mendominasi, peningkatan jumlah wisatawan juga mulai terlihat pada hari kerja. Menurut Bobby, objek wisata yang sedang viral serta destinasi yang menawarkan berbagai aktivitas rekreasi masih menjadi pilihan utama wisatawan selama menikmati libur sekolah di Yogyakarta.

"Objek wisata viral dan juga yang sifatnya bisa untuk bermain dan activity menjadi pilihan utama untuk mereka kunjungi," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|