Harianjogja.com, SLEMAN—Pariwisata Sleman mencatat pertumbuhan signifikan pada paruh pertama 2026. Berdasarkan data sementara Dinas Pariwisata Sleman, total kunjungan wisatawan selama Januari hingga Juni mencapai 4.560.571 kunjungan.
Capaian tersebut bertambah 560.034 kunjungan dibandingkan Semester I 2025 yang mencatat 4.000.537 kunjungan. Dengan demikian, pertumbuhan kunjungan wisatawan di Sleman mencapai sekitar 14 persen secara tahunan.
Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi industri pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, terutama bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM.
Wisatawan Nusantara Jadi Penopang Utama
Pertumbuhan kunjungan wisata ke Sleman sebagian besar berasal dari wisatawan nusantara (wisnus). Data Dinas Pariwisata Sleman menunjukkan jumlah wisnus sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 4.479.192 kunjungan.
Jumlah tersebut meningkat 553.833 kunjungan atau 14,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 3.925.359 kunjungan.
Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) juga menunjukkan tren positif meski kontribusinya masih relatif kecil. Pada Semester I 2026, jumlah wisman tercatat sebanyak 81.379 kunjungan.
Angka itu bertambah 6.201 kunjungan atau naik 8,25 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 75.178 kunjungan.
Dengan komposisi tersebut, wisatawan nusantara menyumbang sekitar 98,2 persen dari total kunjungan wisata ke Sleman selama enam bulan pertama tahun ini.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengatakan dominasi wisatawan domestik masih menjadi kekuatan utama sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Mei Jadi Bulan dengan Kunjungan Tertinggi
Jika dilihat secara bulanan, jumlah wisatawan yang datang ke Sleman mengalami fluktuasi sepanjang Semester I 2026.
Pada Januari, kunjungan wisatawan mencapai 838.502 kunjungan. Angka tersebut kemudian turun cukup tajam menjadi 381.339 kunjungan pada Februari.
Memasuki Maret, tren kembali berbalik naik menjadi 552.600 kunjungan dan meningkat lagi menjadi 774.306 kunjungan pada April.
Lonjakan terbesar terjadi pada Mei dengan total 1.022.036 kunjungan, menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang semester pertama.
Pada Juni, jumlah kunjungan sedikit menurun menjadi 991.788 kunjungan. Meski turun dibandingkan Mei, angka tersebut masih tergolong tinggi.
Tingginya pergerakan wisatawan pada Mei dan Juni dipengaruhi momentum libur Lebaran serta libur sekolah yang mendorong aktivitas perjalanan wisata ke berbagai destinasi di Sleman.
Berpotensi Tembus 8,96 Juta Kunjungan
Dengan capaian lebih dari 4,56 juta kunjungan pada Semester I, jumlah wisatawan yang datang ke Sleman sepanjang 2026 diperkirakan dapat mendekati 9 juta kunjungan.
Dalam skenario moderat, total kunjungan wisatawan selama satu tahun diproyeksikan mencapai sekitar 8,96 juta kunjungan.
Untuk mencapai angka tersebut, jumlah kunjungan pada Juli hingga Desember diperkirakan sekitar 4,40 juta kunjungan.
Rinciannya meliputi:
- Juli: 980.000 kunjungan
- Agustus: 630.000 kunjungan
- September: 560.000 kunjungan
- Oktober: 620.000 kunjungan
- November: 670.000 kunjungan
- Desember: 940.000 kunjungan
Selain skenario moderat, Dinas Pariwisata Sleman juga menyiapkan proyeksi lain. Dalam skenario konservatif, total kunjungan wisatawan sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 8,46 juta kunjungan.
Sementara pada skenario optimistis, jumlah wisatawan berpotensi menembus 9,46 juta kunjungan.
“Data kunjungan Januari-Juni 2026 itu masih sementara. Akan ada update terkait analisis pada akhir triwulan III, awal triwulan IV, kurang lebih pada Oktober 2026,” kata Kus Endarto saat dihubungi, Selasa (4/8/2026).
Ekonomi dan Cuaca Jadi Tantangan
Meski tren pertumbuhan masih positif, sektor pariwisata Sleman tetap menghadapi sejumlah tantangan pada semester kedua tahun ini.
Tekanan ekonomi nasional, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi, hingga perubahan perilaku belanja wisatawan menjadi faktor yang dapat memengaruhi tingkat kunjungan.
Pelemahan rupiah, misalnya, berpotensi meningkatkan biaya operasional berbagai pelaku usaha pariwisata, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga pengelola destinasi wisata.
Selain faktor ekonomi, cuaca ekstrem juga menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Hujan lebat, longsor di kawasan Merapi, maupun bencana hidrometeorologi lainnya dapat berdampak pada aktivitas wisata, terutama di destinasi alam dan desa wisata.
Dalam skenario terburuk, kombinasi berbagai faktor tersebut diperkirakan dapat membuat total kunjungan wisatawan sepanjang 2026 berada di kisaran 8,20 juta hingga 8,50 juta kunjungan.
Pariwisata Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Sleman masih memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi modal penting untuk mempertahankan pertumbuhan sektor pariwisata.
Dominasi wisatawan nusantara, akses yang mudah dari Kota Jogja, serta dukungan jaringan transportasi menjadi faktor yang membantu menjaga pergerakan wisatawan.
Selain itu, keragaman destinasi wisata yang dimiliki Sleman juga menjadi daya tarik tersendiri. Pilihannya mencakup wisata alam, budaya, kuliner, desa wisata, hingga berbagai atraksi yang menyasar wisatawan keluarga maupun generasi muda.
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan juga berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah. Hotel, restoran, UMKM, sektor transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari meningkatnya aktivitas wisata di Kabupaten Sleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































