Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu

2 hours ago 7

Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (tengah) saat meninjau proses penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Minggu (9/8)./ Ist

LOMBOK - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Minggu (9/8). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan operasi pengendalian kebakaran berjalan efektif sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi.

Dalam penanganan kebakaran tersebut, Menteri Kehutanan menginstruksikan penutupan sementara seluruh kawasan TNBTS. Kebijakan ini diberlakukan agar seluruh sumber daya dapat difokuskan pada pemadaman serta langkah antisipasi terhadap potensi munculnya titik api baru.

“Menginstruksikan Kepala Balai untuk menutup sementara secara total TN Bromo Tengger Semeru. Tujuannya satu, agar semua bisa fokus memadamkan api sekaligus mengantisipasi terjadinya kebakaran lagi di tempat lain,” ujar Raja Juli Antoni.

Menurut Raja Juli, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat menjadi pertimbangan penting dalam keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa prinsip keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan bencana.

“Yang kedua juga terkait safety, safety first, yang menyangkut nyawa warga negara akibat bencana ini,” tegasnya.

Untuk mempercepat pemadaman, tiga helikopter telah dikerahkan untuk menjalankan operasi water bombing. Dukungan udara terutama diarahkan ke sejumlah titik api yang berada di kawasan berkontur terjal dan sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.

“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat,” kata Raja Juli.

Sementara itu, tim di darat terus melakukan pemadaman sekaligus membangun sekat bakar untuk memperlambat dan mencegah pergerakan api. Kementerian Kehutanan juga menyampaikan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilaksanakan dalam waktu sekitar 10 hari ke depan.

Hingga Minggu pagi (9/8), luas kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 520 hektare. Data tersebut masih bersifat sementara dan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan serta verifikasi petugas di lapangan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, operasi pemadaman dari udara saat ini diprioritaskan di kawasan puncak B29 yang berada di sisi timur. Selain faktor cuaca, salah satu tantangan utama dalam pemadaman adalah ketersediaan sumber air.

“Beberapa sudah padam dan dijaga pasukan darat yang melakukan pengawasan. Sedangkan di sisi barat sudah disiagakan tim untuk mengantisipasi,” ujar Emil.

Untuk memperkuat kendali operasi, unsur terkait membentuk satuan tugas (satgas) khusus penanganan kebakaran TNBTS. Dalam struktur tersebut ditunjuk seorang Incident Commander yang bertanggung jawab mengoordinasikan seluruh operasi di lapangan, baik yang dilakukan melalui jalur darat maupun dukungan udara.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin mengatakan, keberadaan Incident Commander diharapkan dapat memastikan seluruh kebutuhan dan pergerakan personel maupun sarana pendukung dapat terkoordinasi dengan baik.

“Kita bentuk satgas dengan menunjuk Incident Commander untuk mengoordinir semua pergerakan udara dan darat, termasuk kebutuhan lapangan bisa melalui satgas yang dibentuk,” ujarnya.

Satgas tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta instansi dan pihak terkait lainnya. Koordinasi terpadu diperlukan agar upaya pemadaman dan pencegahan perluasan kebakaran dapat berjalan secara efektif.

Kondisi cuaca juga menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Berdasarkan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) pada 9 Agustus 2026, sejumlah wilayah di Jawa Timur berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut mendorong peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh unsur pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Kementerian Kehutanan bersama seluruh unsur yang tergabung dalam operasi penanganan TNBTS akan terus memantau perkembangan situasi, memperkuat koordinasi, serta melakukan langkah pengendalian secara terpadu untuk mencegah meluasnya kebakaran. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|