Warga mengambil air dari sumur tadah hujan di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/8/2026). Sebanyak 6.738 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan sehingga warga memanfaatkan sumur tadah hujan yang telah keruh maupun membeli air dengan harga Rp40 ribu hingga Rp250 ribu per 1.000 liter untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak. (FOTO : ANTARA FOTO/Hasrul Said)
Warga menjemur di pinggir sumur tadah hujan yang menyusut akibat kemarau di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Sumur tadah hujan menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan warga di tengah kekeringan. Air tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meski kondisinya mulai keruh akibat kemarau. (FOTO : ANTARA FOTO/Hasrul Said)
Warga mengambil air dari sumur bor untuk dijual ke masyarakat yang terdampak kekeringan di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros. Sebanyak 6.738 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan sehingga warga harus membeli air dengan harga Rp40 ribu hingga Rp250 ribu per 1.000 liter untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak. (FOTO : ANTARA FOTO/Hasrul Said)
REPUBLIKA.CO.ID, MAROS -- Warga mengambil air dari sumur tadah hujan di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/8/2026). Kekeringan yang melanda wilayah tersebut membuat warga harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, mulai dari memanfaatkan sumur tadah hujan hingga membeli air.
Sebanyak 6.738 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan. Kondisi sumur tadah hujan yang mulai keruh membuat sebagian warga harus membeli air dengan harga Rp40 ribu hingga Rp250 ribu per 1.000 liter untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak.
sumber : Antara Foto

7 hours ago
6

















































