Karhutla Samboja Ancam Sekolah Hutan, 11 Orangutan Dievakuasi

4 hours ago 7

Harianjogja.com, KALIMANTAN TIMUR— Sebanyak 11 orangutan yang menjalani rehabilitasi di Sekolah Hutan Yayasan Jejak Pulang, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berhasil dievakuasi setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan tersebut pada 1 September 2026.

Api yang muncul dari Areal Penggunaan Lain (APL) di sekitar kawasan rehabilitasi bergerak cepat akibat hembusan angin kencang. Sekitar pukul 16.00 WITA, kobaran api telah melompati batas dan memasuki area Sekolah Hutan seluas 130 hektare yang menjadi tempat 11 orangutan belajar kembali menjalani kehidupan di alam.

Evakuasi dilakukan melalui kolaborasi Yayasan Jejak Pulang, BKSDA Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU). Kurang dari dua jam setelah status darurat dikumandangkan, seluruh orangutan berhasil dipindahkan ke lokasi aman.

Menjelang pukul 18.00 WITA, seluruh orangutan tiba di Kandang Evakuasi Kilometer 38 Samboja dalam kondisi selamat. Kobaran api kemudian berhasil dipadamkan Manggala Agni sekitar pukul 18.30 WITA.

Asap Terlihat dari APL

Sebelum kebakaran mengancam kawasan rehabilitasi, tim pengawas masih menjalankan patroli rutin tiga kali sehari. Kondisi hutan pada pagi hingga menjelang siang masih terpantau aman.

Situasi berubah sekitar pukul 12.30 WITA ketika tim melihat kepulan asap dari APL yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung.

Hembusan angin kencang membuat api berkembang dengan cepat. Kobaran yang awalnya berada di sekitar batas kawasan kemudian bergerak menuju area rehabilitasi orangutan.

Sekitar pukul 16.00 WITA, api berhasil melewati garis batas dan masuk ke Sekolah Hutan. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi terhadap 11 orangutan harus segera dilakukan.

Para penjaga yang sejak pagi disiagakan di sekitar tepi sungai langsung bergerak. Jalur air tersebut sebelumnya telah dipetakan sebagai salah satu rute aman dalam menghadapi kondisi darurat.

Satu per satu orangutan kemudian dibawa menuju kendaraan yang telah disiapkan. Proses evakuasi dilakukan melalui rute penyelamatan yang sebelumnya telah dipetakan.

“Kesiapsiagaan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Juni. Kami sudah berkolaborasi untuk mengantisipasi El Nino yang diprediksi sangat panjang. Ini diantisipasi sejak 16 Juni, dan terbukti kita bisa melaluinya," ujar Rahmat Novirsal, General Manager Yayasan Jejak Pulang.

Menurut Rahmat, kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap ancaman El Nino yang diprediksi berlangsung panjang. Kolaborasi yang telah dibangun sebelumnya kemudian digunakan ketika karhutla benar-benar mengancam kawasan rehabilitasi.

11 Orangutan Dipindahkan ke Kandang Evakuasi

Proses evakuasi mendapat dukungan personel dan kendaraan dari WRU serta BKSDA Kaltim. Seluruh unsur yang terlibat bergerak bersama untuk memastikan 11 orangutan dapat keluar dari kawasan yang terancam api.

Menjelang pukul 18.00 WITA, kesebelas orangutan tiba di Kandang Evakuasi Kilometer 38 Samboja dalam kondisi selamat. Mereka kemudian harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dari Sekolah Hutan.

Mereka sebelumnya menempati Sekolah Hutan seluas 130 hektare. Kawasan tersebut menjadi tempat orangutan menjalani proses rehabilitasi dengan lingkungan yang memungkinkan mereka beraktivitas di antara pepohonan.

Di habitat tersebut, orangutan belajar mencari buah, memanjat, serta bergerak di antara ranting dan kanopi. Setelah dievakuasi, ruang gerak mereka menjadi lebih terbatas karena harus ditempatkan di kandang demi keselamatan.

Kondisi tersebut membuat tim perawat memberikan berbagai bentuk pengayaan untuk menjaga aktivitas fisik dan kognitif orangutan.

Tali digantung pada bagian atas kandang untuk melatih kekuatan tangan. Susunan kayu dibuat menyerupai cabang pohon, sedangkan pakan disembunyikan agar orangutan tetap memiliki aktivitas mencari makanan.

"Proses rehabilitasi tidak terganggu karena kami tetap memberikan pengayaan untuk menstimulasi kognisi dan fisik mereka," tutur Siti Nur Badriyah, Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang.

Pengayaan tersebut dilakukan selama orangutan masih berada di kandang evakuasi. Langkah itu ditujukan agar proses rehabilitasi tetap berjalan meski lingkungan mereka untuk sementara tidak seluas Sekolah Hutan.

Kondisi 11 Orangutan Tetap Sehat

Setelah berhasil dievakuasi, pemantauan terhadap kondisi kesehatan 11 orangutan terus dilakukan. Tim tidak hanya memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga pola makan, pernapasan, pergerakan, serta perubahan perilaku.

Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampak paparan asap akibat karhutla. Hingga kini, seluruh orangutan dilaporkan tetap sehat dan tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

"Kondisi 11 orangutan di Yayasan Jejak Pulang saat ini baik dan normal. Kami masih melakukan observasi, dan hingga kini belum ada tanda-tanda gejala flu atau dampak lain akibat karhutla," tutur drh. Tetri Regilya, Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang.

BKSDA Kaltim juga memastikan kondisi kesebelas orangutan dalam keadaan sehat dan aman. Pemantauan dilakukan bersama tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim meski terdapat keterbatasan sarana.

"Dari hasil pemeriksaan, 11 orangutan dalam kondisi sehat dan aman. Walau ada keterbatasan sarana, pemantauan tetap dilakukan secara ketat oleh tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim," ungkap M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim.

Menunggu Sekolah Hutan Kembali Aman

Kebakaran telah berhasil dipadamkan, tetapi penjagaan terhadap orangutan tetap berlanjut. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan yang muncul setelah mereka terpapar kondisi darurat akibat karhutla.

Sekolah Hutan merupakan bagian penting dari proses rehabilitasi karena menyediakan ruang bagi orangutan untuk kembali belajar menjalani kehidupan di alam. Karena itu, pemindahan ke kandang evakuasi menjadi langkah perlindungan selama kawasan belum sepenuhnya aman.

Kesiapsiagaan yang dilakukan sejak Juni menjadi bagian penting dalam proses penyelamatan. Ketika api akhirnya mencapai kawasan rehabilitasi, rute evakuasi, personel, kendaraan, dan koordinasi antarlembaga telah tersedia.

Kini 11 orangutan tersebut masih berada di Kandang Evakuasi Kilometer 38 Samboja. Mereka menjalani pemantauan dan mendapatkan pengayaan sembari menunggu kondisi kawasan rehabilitasi kembali aman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|