Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang yang memikirkan dengan matang sebelum mengambil jurusan kuliah. Sebab, jurusan kuliah sedikit banyak berdampak pada karier di masa depan. Namun Jensen Huang, CEO Nvidia, punya pemikiran lain soal itu.
Manusia dengan harta kekayaan US$185,1 miliar (Rp 3.300 triliun) itu mengatakan apapun yang dipelajari di masa depan tidak jadi masalah. Karena, yang terpenting adalah seni dan desain di dunia yang didominasi oleh AI.
"Saya pikir tidak akan jadi masalah [jurusan kuliah apa pun]. Semua hal yang dulu penting tetap penting di masa depan," kata Huang, dikutip dari Fortune, Jumat (29/5/2026).
Sebaiknya orang-orang memikirkan apa yang bisa ditingkatkan dengan AI. Teknologi itu dapat membantu dan meningkatkan keahlian yang dimiliki seseorang.
"Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah memastikan Anda bertanya pada diri sendiri: bagaimana AI bisa membantu meningkatkan pembelajaran, keahlian, dan tujuan saya," dia menjelaskan.
Huang sendiri merupakan lulusan teknik elektronik di Universitas Negeri Oregon. Kemudian melanjutkan studi magister di bidang teknik elektro di Stanford.
Jika harus mengulang studinya, Huang mengatakan akan lebih menekuni ilmu fisika dibandingkan software.
Hal serupa juga disebutkan pendiri Anthropic, Jack Clark. Dia mengambil jurusan sastra Inggris dan penulisan kreatif saat sekolah.
Menurutnya, pendidikan soal sejarah dan jenis cerita yang diceritakan mengenai masa depan penting bagi pekerjaannya di bidang AIA.
Lulusan sastra di Universitas California Santa Cruz yang juga pendiri Anthropic lainnya, Daniela Amodei mengatakan kaum muda perluy fokus pada bidang di mana teknologi memerlukan peningkatan. Misalnya kemampuan komunikasi dan berpikir kritis.
"Saya pikir belajar mengenai ilmu humaniora menjadi lebih penting dari sebelumnya," jelas Cruz.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































