Israel Tak Sengaja Tembak Kapal Perang AS, 34 Tentara Tewas di Tempat

12 hours ago 4
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal intelijen milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Liberty, tengah berlayar di perairan internasional dekat Semenanjung Sinai pada pagi hari 8 Juni 1967. Situasi awalnya berjalan normal hingga suasana mendadak berubah tegang ketika alarm bahaya di kapal berbunyi keras menandakan adanya ancaman yang mendekat.

Kapten USS Liberty, William L. McGonagle, segera menuju ruang radar setelah menerima laporan pergerakan mencurigakan di sekitar kapal. Dari layar radar terlihat sejumlah pesawat tempur melaju cepat menuju posisi USS Liberty dari jarak yang sangat dekat. McGonagle langsung mencoba melaporkan situasi tersebut ke Armada Keenam Angkatan Laut AS.

Namun sebelum komunikasi berlangsung lebih lanjut, dua pesawat tempur itu langsung menukik dan memberondong kapal dengan tembakan. Serangan mendadak tersebut menewaskan sembilan awak kapal dan melukai puluhan lainnya. McGonagle sendiri ikut terkena tembakan di bagian lengan dan paha saat mencoba mengendalikan situasi di atas kapal.

Mengira serangan dilakukan oleh militer Mesir, awak USS Liberty berusaha melakukan perlawanan. Baku tembak pun pecah di tengah laut. Tidak lama berselang, sejumlah kapal torpedo ikut mendekati USS Liberty dan melancarkan serangan lanjutan yang membuat kondisi kapal semakin kritis.

Tak berselang lama, beberapa kapal torpedo mendekat dan ikut menyerang. Salah satu tembakan meriam mereka menghantam bagian kapal. Lalu lima torpedo lain dilepaskan. Satu di antaranya membuat ledakan besar.

Ledakan itu menewaskan 25 awak kapal. Jadi, total awak tewas mencapai 34 prajurit. William D. Gerhard dalam Attack on the USS Liberty (2009) menyebut, mayoritas korban selamat juga mengalami luka bakar parah imbas ledakan.

Kapal Liberty sendiri berada di ambang kehancuran dan nyaris tenggelam.

Di tengah kekacauan, pihak penyerang tiba-tiba terlihat tampak ragu. Mereka yang awalnya meyakini telah menargetkan musuh mulai merasakan kejanggalan. Sebab, kapal yang diserang tidak memberikan perlawanan berarti.

Beberapa menit kemudian, ketika salah satu sekoci penyelamat USS Liberty berhasil mereka dekati, terlihat jelas lambang resmi Angkatan Laut Amerika Serikat.

Saat itulah kesalahan besar terungkap. Ternyata kapal yang diduga musuh itu adalah milih Angkatan Laut Amerika Serikat dan serangan tersebut ternyata dilakukan oleh sekutu dekat, yakni Israel.

Israel Salah Sasaran

Dalam penceritaan James M. Ennes dalam Assault on the Liberty (1987), ketika hari kejadian, tensi dunia Arab sedang meningkat imbas pertempuran antara Israel dan negara-negara Arab. Dalam pertempuran yang dikenal sebagai Perang Enam Hari, AS memang tak terlibat. Tapi, mereka merasa penting mengumpulkan data intelijen.

Pentagon lantas mengirim USS Liberty sebagai kapal intelijen. Misi itu dijalankan secara diam-diam. USS Liberty berlayar sendirian tanpa pengawalan kapal tempur, tanpa identitas jelas, dan tanpa mengibarkan bendera AS. Bahkan, keberadaannya tidak diinformasikan kepada negara lain, termasuk ke Israel.

Keputusan untuk merahasiakan kehadiran kapal ini kelak menjadi awal petaka.

Di hari-hari awal perang, Israel telah mencurigai kapal asing yang bergerak tanpa identitas di perairan internasional. Saat itu, perairan internasional sudah ditutup. Praktis, satu kapal yang bergerak tanpa identitas menarik perhatian militer.

Militer Israel tidak mengetahui bahwa kapal tersebut adalah bagian dari operasi militer AS. Kecurigaan itu makin menguat saat 8 Juni 1967, Israel menerima laporan tentang adanya serangan terhadap pasukannya.

Mereka menduga serangan itu berasal dari kapal perang. Melihat adanya kapal asing yang selama ini mereka curigai, militer Israel kemudian menganggap kapal itu sebagai milik Mesir, musuh mereka dalam perang.

Serangan pun dilakukan. Tanpa disadari bahwa kapal tersebut ternyata adalah milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Begitu Amerika mengetahui bahwa kapal USS Liberty diserang, reaksi keras langsung muncul dari Washington. Pemerintah AS awalnya mengira serangan dilakukan militer Rusia. Namun, setelah terkonfirmasi, serangan dilakukan oleh sekutu sendiri. Kemarahan pun muncul.

Israel lalu mengakui kesalahan dan menawarkan kompensasi sebesar US$12 juta untuk keluarga para korban.

Meskipun Presiden Lyndon B. Johnson menerima permintaan maaf dan tawaran kompensasi tersebut, kasus ini meninggalkan luka mendalam. Banyak pihak, termasuk keluarga korban, merasa bahwa pemerintah AS tidak cukup tegas terhadap Israel.

Sebab, tragedi USS Liberty merupakan serangan pertama terhadap kapal militer AS setelah Perang Dunia II.

Dalam pandangan mereka, jika negara lain yang melakukan serangan serupa, respons Amerika kemungkinan besar akan jauh lebih keras. Bahkan bisa berujung pada tindakan militer.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|