REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah merasa lelah luar biasa, tapi saat mencoba merebahkan diri, tangan justru refleks meraih ponsel dan mulai membandingkan hidup dengan keberhasilan orang lain di layar? Bagi banyak Generasi Z, hidup hari ini terasa seperti terjebak dalam perlombaan yang tidak ada garis akhirnya.
Ada tekanan besar untuk selalu terlihat "sibuk", sukses di usia muda, sekaligus tetap eksis secara sosial. Berhenti sejenak sering kali dianggap sebagai sebuah kegagalan, padahal kesehatan mental yang sesungguhnya bukan tentang seberapa kuat kita bertahan dalam tekanan, melainkan tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita butuh ruang untuk bernapas tanpa merasa bersalah.
Konselor kesehatan mental sekaligus pendiri UnFix Your Feelings, Aanandita Vaghani, melihat bahwa pola hidup "selalu aktif" ini sedang menguras energi para Zoomers secara diam-diam. Menurutnya, masalah yang dialami Gen Z saat ini jauh lebih kompleks karena melibatkan ekosistem digital yang tidak pernah tidur. Namun, ia percaya bahwa memahami tantangan ini adalah langkah pertama untuk membangun ketangguhan emosional yang nyata.
Berikut adalah lima tantangan kesehatan mental yang paling sering menghantui Gen Z serta panduan untuk menavigasinya menurut analisis Aanandita Vaghani:
1. Tekanan media sosial dan komparasi diri
Media sosial telah bertransformasi dari ruang berbagi menjadi ladang pembanding harga diri. Meski sadar bahwa apa yang terpampang di layar hanyalah kurasi momen terbaik, banyak anak muda tetap merasa hancur secara emosional.
"Dalam pekerjaan saya dengan Gen Z, media sosial sering muncul saat kita berbicara tentang harga diri. Mereka mungkin merasa tertinggal, tidak memadai, atau cemas setelah menggulir media sosial," ujar Vaghani kepada Health Shots. Fokus utamanya bukan menghentikan penggunaan media sosial, melainkan mengambil kendali agar platform tersebut tidak lagi mendikte kepercayaan diri mereka.
2. Stres akademik dan karier
Ketidakpastian ekonomi dunia membuat satu kesalahan kecil dalam pilihan karier terasa seperti akhir dari segalanya. "Banyak Gen Z merasa tertekan untuk sukses lebih awal secara nyata. Mereka sering datang ke terapi dengan perasaan terbakar (burnout) dari sekolah atau takut bahwa satu pilihan karier yang salah bisa menghancurkan masa depan mereka," ujar Vaghani. Terapi membantu mereka memandang sukses sebagai sebuah proses yang dinamis, bukan sekadar angka produktivitas atau pencapaian tetap.
3. Kesepian dan isolasi
Memiliki ribuan pengikut di dunia maya ternyata tidak menjamin seseorang terbebas dari rasa sepi. Justru, koneksi digital sering kali terasa dangkal dan hambar.
"Banyak anak muda melaporkan merasa kesepian, meskipun mereka sering daring dan memiliki kehidupan sosial yang aktif. Mereka mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan atau meminta bantuan karena takut menjadi beban," kata Vaghani. Membangun hubungan yang lebih nyata melalui interaksi tatap muka dan komunikasi emosional yang jujur menjadi langkah krusial untuk keluar dari isolasi ini.
4. Kecemasan dan depresi
Gen Z memikul beban kekhawatiran global yang berat, mulai dari krisis iklim hingga ketidakpastian politik. "Banyak yang membawa duka dalam diam untuk dunia yang terasa tidak terduga dan luar biasa," ujarnya. Normalisasi terhadap perasaan takut dan sedih adalah langkah awal dalam terapi untuk membangun strategi koping yang sehat tanpa harus merasa bersalah atas emosi negatif yang muncul.
5. Burnout dan overstimulasi
Budaya notifikasi 24 jam membuat otak manusia jarang mendapatkan kesempatan untuk beristirahat total. "Burnout dan overstimulasi adalah tantangan nyata yang saya lihat pada Gen Z. Banyak yang menggambarkan perasaan lelah namun tidak mampu beristirahat tanpa merasa bersalah," kata Vaghani. Belajar menetapkan batasan dengan teknologi dan menjadwalkan waktu istirahat secara sengaja adalah cara untuk mencegah kelelahan mental yang lebih parah.
Melalui pendampingan yang tepat, Vaghani percaya bahwa Gen Z mampu mengubah kerentanan mereka menjadi kekuatan. "Ketika diberikan dukungan yang tepat, Gen Z menunjukkan wawasan yang luar biasa dan kemauan tulus untuk terlibat dengan kesejahteraan emosional mereka—bahkan sering kali memimpin jalan dalam membentuk kembali bagaimana kesehatan mental dipahami saat ini," ujarnya.

1 month ago
18
















































