Ini Dia Pemenang Sesungguhnya dari Perang AS Israel Melawan Iran

2 hours ago 2

Warga Iran berjalan melewati papan reklame mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei di sebuah jalan di Teheran, Iran, 15 Juni 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON—Pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesepakatan dengan Iran ternyata tidak disambut dengan antusiasme seperti yang ia harapkan.

Pada Ahad (14/6/2026) lalu diumumkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap serta dimulainya perundingan mengenai program nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi.

Berbagai analisis pun bermunculan di surat kabar di seluruh dunia. Sebagian mencoba menjelaskan akar kekecewaan yang meluas terhadap kesepakatan tersebut.

Sementara sebagian lainnya ikut mengkritik dengan menegaskan kesepahaman baru itu tidak menyentuh akar persoalan dan bahwa kemungkinan kembalinya konfrontasi masih tetap ada.

Aljazeera Kamis (18/6/2026) mengutip The Independent melaporkan, dalam konteks ini, dua penulis Inggris membahas kesepakatan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

Yang pertama menyoroti bahwa perang berakhir tanpa pemenang yang jelas, sedangkan yang kedua melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa pihak yang paling diuntungkan justru adalah negara yang tidak terlibat secara langsung dalam konflik, yakni China.

Gideon Rachman, komentator senior urusan luar negeri harian Financial Times, menilai bahwa kesepakatan yang ingin dipromosikan Trump sebagai pencapaian politik besar justru menunjukkan keterbatasan kekuatan militer serta kegagalan pihak-pihak yang berperang dalam mencapai tujuan maksimal mereka.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|