Harianjogja.com, JOGJA— Inflasi DIY pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,37% secara bulanan atau month-to-month (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang mencapai 0,15%. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Meski mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, laju inflasi DIY masih berada di bawah rata-rata nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menunjukkan inflasi nasional pada Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan, sementara inflasi tahunan DIY tetap berada dalam rentang sasaran pengendalian inflasi pemerintah.
Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) di DIY pada Juni 2026 mencapai 2,91%, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) sebesar 1,59%.
Menurut Endang, berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok transportasi yang mengalami inflasi 2,43% dengan andil 0,31%. Kondisi tersebut terutama dipicu kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya bensin jenis Pertamax.
"Inflasi itu biasanya pada administered price. Penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax pengaruhnya juga luar biasa, sebagai komoditas pemicu yang pertama," paparnya saat ditemui di Kantor BPS DIY, Rabu (1/7/2026).
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,35% dengan andil 0,02%. Penurunan tersebut dipengaruhi turunnya harga emas, termasuk emas perhiasan.
Endang menjelaskan kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak langsung terhadap sektor transportasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya distribusi berbagai komoditas sehingga memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen. Meski demikian, inflasi DIY secara tahunan masih berada pada level 2,91% atau masih sesuai target nasional sebesar 2,5% dengan toleransi plus minus 1%.
"Dampaknya biasanya spiral itu. Transportasi kan ke harga barang," ujarnya.
Secara bulanan, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar adalah bensin sebesar 0,24%. Selanjutnya disusul bawang merah dan bawang putih dengan andil masing-masing 0,04%, wortel 0,03%, serta tarif kereta api sebesar 0,02%.
Adapun komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi secara bulanan antara lain daging ayam ras sebesar -0,05%, emas perhiasan dan cabai rawit masing-masing -0,03%, serta sawi hijau dan terong sebesar -0,02%.
"Emas perhiasan ini seiring dengan harga di tingkat global yang mengalami penurunan, sehingga memberikan andil deflasi juga di DIY sebesar -0,03%," jelasnya.
Lebih lanjut, Endang mengatakan inflasi tahunan DIY pada Juni 2026 sebesar 2,91%, sedikit meningkat dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 2,77%. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 14,71% dengan andil sebesar 0,98%.
"Karena memang secara yoy ini kenaikan harga emas begitu berfluktuasi," ucapnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi tahunan sebesar 2,54% dengan andil 0,72%. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya harga beras dan minyak goreng. Sementara itu, kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan sebesar 3,87% dengan andil 0,50% yang juga dipengaruhi kenaikan harga BBM non-subsidi.
Lima komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar meliputi emas perhiasan sebesar 0,95%, bensin 0,27%, beras 0,11%, minyak goreng 0,10%, dan cabai rawit 0,08%. Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan antara lain kelapa, tomat, kacang panjang, telur ayam ras, dan daun melinjo.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan secara nasional pada Juni 2026 terjadi inflasi sebesar 0,44% secara bulanan. Kenaikan tersebut ditandai dengan meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026.
"Secara tahunan terjadi inflasi sebesar 3,34% dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,79%," paparnya.
Menurut Ateng, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar secara nasional dengan inflasi sebesar 2,29% dan andil 0,28%. Tiga komoditas yang paling besar mendorong inflasi pada kelompok tersebut ialah bensin dengan andil 0,21%, tarif angkutan udara 0,05%, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01%.
Data inflasi DIY dan nasional tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan harga yang terus dipantau pemerintah sebagai dasar pengambilan kebijakan pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































