Harga Minyak Masih Berada di US$110, Timur Tengah Masih Panas

18 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali memanas pada awal pekan, seiring ketegangan geopolitik yang belum mereda. Berdasarkan data Refinitiv per Senin (6/4/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak acuan bergerak di level tinggi setelah sempat mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Minyak jenis Brent tercatat di US$109,59 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$110,63 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah fase volatil yang cukup ekstrem sejak akhir Maret, di mana Brent sempat menyentuh US$118,35 pada 31 Maret sebelum terkoreksi dan kembali naik.

Jika ditarik sejak 23 Maret, reli harga minyak terlihat cukup agresif. Brent yang saat itu masih di kisaran US$99,94 kini telah melonjak lebih dari 9%, sementara WTI melesat jauh dari US$88,13 ke atas US$110.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada periode 31 Maret, ketika Brent melonjak ke US$118,35 level tertinggi dalam rangkaian data ini. Setelah itu, harga sempat terkoreksi ke kisaran US$101 pada 1 April, sebelum kembali rebound ke atas US$109 pada awal pekan ini.

WTI menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Meski sempat menembus US$111,54 pada 2 April, harga kemudian terkoreksi tipis ke US$110,63 pada hari ini, mengindikasikan adanya tarik-menarik antara faktor suplai dan aksi ambil untung.

Pasar energi global saat ini berada dalam bayang-bayang gangguan suplai dari Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Penutupan jalur ini akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat distribusi minyak tersendat. Sejumlah kilang dilaporkan mulai mencari sumber alternatif, termasuk dari kawasan Laut Utara dan Teluk AS, yang memicu persaingan harga di pasar fisik.

Di sisi lain, Iran masih memberikan akses terbatas bagi kapal dari negara tertentu, sehingga arus pasokan tidak sepenuhnya berhenti. Kondisi ini membuat pasar bergerak liar, mengikuti perkembangan situasi di lapangan yang berubah cepat.

Ancaman Baru dari Washington

Tekanan geopolitik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ancaman serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi disebut dapat dilakukan dalam waktu dekat apabila jalur tersebut tetap tertutup.

Langkah ini memperbesar risiko konflik berkepanjangan, terlebih setelah serangan juga meluas ke fasilitas energi di beberapa negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Gangguan lintas negara ini mempertegas rapuhnya rantai pasok energi global saat ini.

Dari sisi kebijakan, OPEC+ telah menyepakati kenaikan produksi sekitar 206 ribu barel per hari untuk Mei. Namun, implementasinya menghadapi kendala serius di lapangan.

Sejumlah produsen utama mengalami gangguan operasional akibat konflik, sementara Rusia juga menghadapi hambatan ekspor setelah serangan drone terhadap terminal di Laut Baltik. Dengan kondisi ini, tambahan suplai berpotensi tidak sepenuhnya terealisasi.

CNBC Indonesia

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|