Newswire Selasa, 04 Agustus 2026 13:27 WIB

Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA—Penurunan harga minyak dunia dinilai menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan kebijakan energi, terutama terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM). Di tengah meredanya harga minyak global, pemerintah dinilai memiliki ruang fiskal yang lebih longgar untuk menjalankan reformasi tanpa memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara.
Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan kondisi tersebut merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk menata berbagai kebijakan agar lebih efektif dan berkelanjutan.
“Momentumnya ada di ruang fiskal dan kesempatan menata aturan. Saat harga minyak sedang tenang, itulah reformasi paling murah dilakukan,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Harga Minyak Turun Jadi Peluang Benahi Kebijakan
Menurut Yayan, terdapat sejumlah langkah yang dapat ditempuh pemerintah selama harga minyak dunia masih berada dalam tren penurunan.
Langkah tersebut meliputi penyempitan selisih tangga subsidi, pemulihan bantalan stok bahan bakar minyak (BBM), hingga penguatan skema perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.
Ia menilai bantuan langsung kepada rumah tangga rentan yang telah terdaftar dalam basis data pemerintah akan lebih efektif dibandingkan pemberian subsidi terhadap komoditas yang juga dinikmati kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi.
Gejolak Geopolitik Masih Menjadi Ancaman
Meski harga minyak tengah melemah, Yayan mengingatkan pemerintah agar tetap mewaspadai sejumlah faktor yang dapat mendorong harga energi kembali meningkat.
Menurutnya, salah satu risiko terbesar berasal dari ketidakpastian geopolitik.
Ia mencontohkan harga minyak mentah Brent sempat menembus 100,17 dolar AS per barel pada 23 Juli, tertinggi sejak Mei. Harga tersebut melonjak 6,5 persen hanya dalam satu hari dari 94,07 dolar AS per barel akibat meningkatnya ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, dua jalur pelayaran strategis dunia.
Pelemahan Rupiah Bisa Menghapus Penurunan Harga BBM
Selain harga minyak dunia, Yayan menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting dalam pembentukan harga BBM di dalam negeri.
Menurutnya, formula harga BBM mempertimbangkan kurs sehingga pelemahan nilai tukar dapat menghilangkan manfaat dari penurunan harga minyak.
Ia menjelaskan, setiap pelemahan Rp500 per dolar AS dapat meningkatkan harga keekonomian BBM sekitar Rp350 per liter. Angka tersebut lebih besar dibandingkan penurunan harga Pertamax sebesar Rp300 per liter yang baru diberlakukan PT Pertamina pada awal Agustus 2026, yakni dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.
“Yang paling sering luput adalah kurs. Pelemahan rupiah 500 perak saja sudah menghapus penurunan Rp300 ini, tanpa harga minyak bergerak sedikit pun. Jadi, risikonya bukan hanya dari Hormuz, tetapi juga dari nilai tukar,” kata Yayan.
Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia tercatat turun lebih dari 5 persen pada Senin setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Iran akan dilanjutkan serta membatalkan rencana serangan militer terhadap negara tersebut.
Perkembangan tersebut memicu optimisme pasar terhadap meredanya risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun menjadi sekitar 83,40 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,5 juta pada Senin pukul 06.05 GMT (13.05 WIB).
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai acuan Amerika Serikat juga melemah 6 persen menjadi 79,60 dolar AS per barel, atau sekitar Rp1,4 juta.
Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya harapan bahwa jalur diplomasi kembali dibuka sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah mulai mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































