Harga HP Baru Mahal, Konsumen Ramai-Ramai Beralih ke HP Rekondisi

2 hours ago 1

Jumali

Jumali Rabu, 02 September 2026 09:07 WIB

Harga HP Baru Mahal, Konsumen Ramai-Ramai Beralih ke HP Rekondisi

Foto ilustrasi pabrik ponsel pintar. - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena mengejutkan terjadi di pasar smartphone global. Untuk pertama kalinya, pengiriman panel layar untuk HP bekas (rekondisi) melampaui pengiriman panel untuk HP baru.

Berdasarkan laporan perusahaan riset Omdia, produsen panel mengirim 298 juta panel layar ke pasar HP rekondisi pada kuartal I-2026, sementara pengiriman panel untuk produsen smartphone baru hanya mencapai 289 juta unit—selisih sekitar 9 juta unit.

Angka ini menandai perubahan signifikan dalam lanskap industri ponsel. Lantas, apa yang mendorong lonjakan permintaan HP bekas ini dan apakah tren ini akan berlanjut? Simak analisis lengkapnya berikut ini.

Pasar HP rekondisi tumbuh cukup pesat. Riset menunjukkan bahwa pengiriman panel untuk kategori ini naik 20 persen dibandingkan kuartal I-2025. Angka 298 juta panel tersebut bukan berarti ada 298 juta HP bekas yang terjual.

Omdia sendiri memasukkan sejumlah ketentuan ke dalam kategori pasar rekondisi, termasuk panel untuk mengganti layar HP yang rusak, memperbaiki perangkat, hingga merakit kembali HP bekas agar siap dijual. Yang menarik, ponsel yang masuk ke pasar rekondisi juga bukan hanya perangkat murah.

Pada periode yang sama, panel OLED tercatat menyumbang 7 persen dari pengiriman panel ke pasar rekondisi—meningkat drastis dari hanya 2 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut Omdia, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa HP premium yang sudah berusia sekitar tiga atau empat tahun mulai mendapatkan "kehidupan kedua" melalui pasar rekondisi. Artinya, konsumen kini semakin percaya diri membeli flagship bekas yang masih memiliki performa mumpuni.

Pertumbuhan pasar HP bekas dan rekondisi terjadi ketika harga smartphone baru semakin tinggi. Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan harga memori—komponen seperti DRAM dan NAND menjadi lebih mahal sehingga biaya produksi smartphone ikut naik.

Kenaikan biaya tersebut, menurut Omdia, membuat produsen harus lebih berhati-hati dalam memproduksi HP baru, terutama di segmen harga murah. Perusahaan riset tersebut bahkan memperkirakan kebutuhan panel untuk smartphone baru akan turun 12 persen sepanjang 2026.

The Next Web mengungkapkan terkait data lain yang menunjukkan pengiriman smartphone global turun 6 persen pada kuartal II-2026, menjadi 272 juta unit dari 288,9 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi sinyal bahwa pasar smartphone baru tengah menghadapi tantangan berat.

Di sisi lain, kenaikan harga HP yang sudah terjadi juga belum tentu bisa kembali seperti sebelumnya ketika harga memori nantinya turun. Omdia menilai konsumen sudah mulai terbiasa membeli smartphone dengan harga yang lebih tinggi.

Kondisi ini memberi ruang bagi produsen untuk mempertahankan harga di level tersebut—sebuah fenomena yang disebut Omdia sebagai "structural repricing." Istilah ini menggambarkan kondisi di mana harga HP yang sudah naik selama setahun terakhir berpotensi menjadi "standar baru," bukan sekadar kenaikan sementara akibat kelangkaan memori.

Jika kondisi ini berlanjut, HP bekas dan rekondisi berpeluang menjadi alternatif utama bagi konsumen yang ingin mendapatkan smartphone dengan harga lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Bagi konsumen, ini adalah kabar baik—peluang mendapatkan flagship premium dengan harga jauh lebih rendah semakin terbuka lebar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|