Hadeging Pakualaman 214 Hadirkan Kethoprak Sejarah Pakualaman

5 hours ago 3

Hadeging Pakualaman 214 Hadirkan Kethoprak Sejarah Pakualaman

(dua dari kanan) Ketua Umum Hadeging Kadipaten Pakualaman Ke-214, Bendara Pangeran Harya (BPH) Kusumo Bimantoro dan (paling kiri) Koordinator Lapangan, Mas Lurah Nitipustoko dalam konferensi pers di Pura Pakualaman, Rabu sore, (17/6/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214 akan menghadirkan pementasan kethoprak yang mengangkat sejarah berdirinya Kadipaten Pakualaman sebagai salah satu agenda utama. Pertunjukan yang dimainkan para abdi dalem ini menjadi bagian dari upaya melestarikan seni tradisi sekaligus mengenalkan sejarah Pakualaman kepada masyarakat pada Minggu malam, 21 Juni 2026.

Selain pertunjukan kethoprak, rangkaian Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214 juga diisi beragam kegiatan sosial, budaya, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh agenda tersebut terbuka untuk umum dan dipusatkan di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, serta Kabupaten Kulonprogo.

Ketua Umum Hadeging Kadipaten Pakualaman Ke-214, Bendara Pangeran Harya (BPH) Kusumo Bimantoro, mengatakan peringatan tahun ini tidak hanya berfokus pada pelestarian adat dan budaya, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan mengusung tema Rinarasing Astuti Nir Ing Sikara yang mengandung makna pentingnya membangun keselarasan lahir dan batin melalui doa, rasa syukur, serta harapan yang dipanjatkan dengan tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menjelaskan, makna Rinarasing Astuti Nir Ing Sikara mencerminkan keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan dengan ketulusan hati akan menghadirkan keharmonisan, baik dalam kehidupan pribadi maupun hubungan antarsesama.

"Keselarasan tersebut menjadi landasan terciptanya ketenteraman, persatuan, dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat," ujarnya dalam konferensi pers di Pura Pakualaman, Rabu sore (17/6/2026).

BPH Kusumo Bimantoro menambahkan seluruh agenda dapat diikuti masyarakat tanpa dipungut biaya. Kegiatan akan berlangsung di dua lokasi utama, yakni Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, dan Kabupaten Kulonprogo. Salah satu agenda sosial yang disiapkan adalah khitanan massal gratis di Rumah Dinas Bupati Kulonprogo pada Kamis, 18 Juni 2026.

Rangkaian Hadeging Pakualaman ke-214 juga menghadirkan Pasar Sewandanan bertema Menyemai Citarasa Klasik, Memanen Geliat Ekonomi Otentik. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Dinas Koperasi dan UKM, SiBakul Jogja, serta Dinas Kebudayaan DIY sebagai ruang apresiasi sekaligus penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM.

"Acara ini akan dimeriahkan oleh lebih dari 40 tenant terpilih yang menghadirkan ragam kuliner jadul, kerajinan tangan lokal, serta fasilitas Bazar Pangan Murah yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan harga terjangkau pada 20 dan 21 Juni 2026," jelasnya.

Selama Pasar Sewandanan berlangsung, masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari Festival Jathilan Day, Kelas Membatik, Campursari Kidang Alit feat Dhimas Tedjo, Mlampah Guyub Sesarengan, Uyon-Uyon, hingga pementasan Kethoprak Damar Ing Wanci Panglong yang menghadirkan bintang tamu Dalijo Angkring, Oki Setyawati, Harin Sumonah, Ciblek, dan Chothiet.

Ia menambahkan Festival Jathilan mengusung semangat Klasik Asik sebagai upaya merawat ekosistem seni pertunjukan rakyat. Festival tersebut menjadi wadah bagi sanggar dan seniman jathilan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperebutkan total hadiah pembinaan senilai Rp27 juta.

"Kadipaten Pakualaman mengajak seluruh masyarakat, baik warga Yogyakarta maupun wisatawan, untuk hadir dan memeriahkan rangkaian peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214 ini terkhusus pada gelaran Pasar Sewandanan yang terbuka untuk umum dan penuh dengan hiburan kesenian," lanjutnya.

Koordinator Lapangan, Mas Lurah Nitipustoko, mengatakan Pasar Sewandanan menjadi kegiatan utama dalam rangkaian Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-214. Menurutnya, konsep kegiatan tersebut mengusung suasana yang serupa dengan Pasar Kangen.

"Tradisi budaya yang akan kita tampilkan di puncak kesenian di hari Minggu malam. Itu tradisi kethoprak," ungkapnya.

Ia menjelaskan, Pakualaman memiliki tradisi kesenian kethoprak yang terus dijaga keberlangsungannya. Momentum Hadeging Pakualaman ke-214 dimanfaatkan untuk kembali menghadirkan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya di tengah semakin berkurangnya pementasan kethoprak di Yogyakarta.

Kethoprak yang dipentaskan kali ini akan dimainkan oleh para abdi dalem Pura Pakualaman, khususnya dari Langen Projo dan Matoyo, dengan dukungan sejumlah bintang tamu. Cerita yang diangkat berfokus pada sejarah berdirinya Kadipaten Pakualaman sehingga masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai perjalanan sejarah Pakualaman.

"Cerita yang akan kami ambil juga cerita tentang Kadipaten Pakualaman, seperti itu. Terkait berdirinya Kadipaten Pakualaman," jelasnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|