
Poster film animasi Ajisaka: The King and The Flower of Life. Ist/ Universitas Amikom Yogyakarta
Harianjogja.com, JOGJA— Film animasi Ajisaka: The King and The Flower of Life produksi Universitas Amikom Yogyakarta bersama MSV Studio memasuki tahap akhir penyelesaian. Setelah merampungkan proses rekaman musik di Paramount Pictures, proyek animasi tersebut kini tinggal menjalani tahapan sound mixing sebelum ditargetkan tayang pada 2026.
Proses pascaproduksi film ini turut melibatkan sejumlah figur papan atas industri perfilman dunia. Rekaman musik telah dikerjakan bersama komposer yang berpengalaman menangani berbagai film Hollywood, sedangkan proses sound mixing dipercayakan kepada Craig Mann, peraih sejumlah penghargaan internasional di bidang tata suara film.
Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Suyanto, mengatakan seluruh proses rekaman musik telah selesai dan saat ini tim produksi tengah menyelesaikan tahap akhir penyempurnaan kualitas audio.
"Saat ini tinggal sound mixing, sedang ditata. Kan baru selesai rekaman di Paramount Pictures untuk musiknya, setelah itu nanti sound mixing," ujar Suyanto seusai menghadiri Public Hearing Raperda Pefilman di DPRD DIY, Rabu (1/7/2026).
Menurut Suyanto, keterlibatan para profesional perfilman dunia dalam produksi Ajisaka menjadi pengalaman berharga bagi tim Indonesia. Selain didukung kru internasional, film tersebut juga menghadirkan sekitar 15 aktor Hollywood sebagai pengisi suara, termasuk aktris asal Amerika Serikat, Lucy Liu.
"Saya sebagai orang Indonesia itu seperti mimpi, menyutradarai para pemenang Oscar," ujarnya.
Suyanto menjelaskan, Ajisaka tidak sekadar menyuguhkan kisah petualangan, tetapi juga menghadirkan perjalanan psikologis dan spiritual yang berangkat dari filosofi lokal Indonesia. Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita yang dapat diterima penonton internasional tanpa meninggalkan identitas budaya Nusantara.
Film Ajisaka mengangkat kisah dunia kuno yang dihuni oleh tiga ras, yakni manusia, Raksha atau raksasa, serta Vidya yang merupakan keturunan manusia dan malaikat. Cerita berfokus pada perjalanan Ajisaka, pemimpin manusia yang berusaha mengakhiri kekuasaan Raja Raksha demi mewujudkan perdamaian di dunia tersebut.
Dalam proses produksinya, Universitas Amikom Yogyakarta juga melibatkan mahasiswa dan alumninya. Saat memasuki puncak produksi, sekitar 300 orang yang terdiri atas tenaga profesional, mahasiswa, dan alumni berkolaborasi menyelesaikan proyek animasi tersebut.
"Mahasiswa maupun alumni terlibat. Ini menjadi suatu sinergi yang luar biasa," katanya.
Suyanto mengungkapkan pengembangan Film Ajisaka memerlukan waktu sekitar lima tahun karena diawali dengan riset yang cukup panjang. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Amikom untuk mempercepat pengembangan proyek animasi berikutnya yang berjudul Golden Snail.
Menurutnya, naskah Golden Snail telah diserahkan kepada mitra di Hollywood. Saat ini tim Amikom sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah tokoh perfilman Hollywood yang diproyeksikan menjadi sutradara pendamping dalam proyek tersebut.
Di sisi lain, Suyanto menilai ekosistem perfilman di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin mendapat pengakuan dari industri perfilman internasional. Kepercayaan yang telah terbangun dengan Hollywood dinilai menjadi modal penting untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai salah satu pusat perfilman dunia.
"Jogja sudah di-trust oleh Hollywood. Kita berharap Jogja betul-betul menjadi pusat perfilman internasional, menjadi pusat film dunia," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































