Festival Kethoprak Jogja Angkat Sejarah Mataram

3 hours ago 1

Festival Kethoprak Jogja Angkat Sejarah Mataram

Penampilan salah satu kontingen dalam hari pertama Festival Kethoprak di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Umbulharjo, Minggu (7/6/2026) malam. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA - Festival Kethoprak tingkat Kota Jogja tak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga diarahkan sebagai ruang aktualisasi budaya dan penguatan identitas kota berbasis sejarah, dengan mengangkat tema Mataram pasca Perjanjian Giyanti hingga sebelum peristiwa Geger Sepehi.

Festival yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-79 Pemerintah Kota Jogja ini resmi dibuka di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Umbulharjo, Minggu (7/6/2026) malam. Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari hingga Selasa (9/6/2026) dengan pementasan dimulai setiap pukul 19.00 WIB.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja, Yetti Martanti, menegaskan festival ini menjadi bagian dari upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan melalui ruang ekspresi bagi seniman.

“Dalam upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan perlu kiranya dukungan terhadap kegiatan-kegiatan termasuk Festival Ketoprak ini yang menjadi media aktualisasi dari kebudayaan,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, kebutuhan akan pertunjukan ketoprak berkualitas semakin terasa, sehingga festival ini diharapkan mampu melahirkan karya kreatif sekaligus memperkuat posisi Jogja sebagai kota budaya.

“Ketoprak tidak hanya sebagai pertunjukan estetika saja, namun juga memberi misi untuk penyadaran budaya dalam konteks peradaban dan masyarakat,” katanya.

Pada tahun ini, festival diikuti oleh 14 kemantren yang terbagi dalam tujuh kontingen, masing-masing terdiri dari dua kemantren. Setiap kontingen akan menampilkan pementasan berdurasi 45 menit.

Tema yang diangkat yakni periode Mataram setelah Perjanjian Giyanti hingga sebelum peristiwa Geger Sepehi. Penilaian dilakukan berdasarkan naskah dan pertunjukan, dengan fokus pada keaktoran, harmoni, dramatik, kreativitas, dan iringan.

“Penilaian ini berdasarkan pada naskah dan pertunjukan dengan kriteria keaktoran yang menjadi fokus utama penilaian kemudian juga harmoni, dramatik, kreativitas dan iringan,” jelas Yetti.

Selain juara umum, panitia juga akan memberikan penghargaan untuk kategori naskah terbaik, sutradara terbaik, serta pemeran pria dan wanita terbaik. Pemenang nantinya akan mewakili Kota Jogja di tingkat Provinsi DIY.

Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menilai festival ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga penguatan sumber daya manusia berbasis budaya.

“Ini menunjukkan bahwa pembangunan Kota Yogyakarta itu bukan hanya infrastruktur. Tapi bagaimana SDM, khususnya kebudayaan ini,” kata Wawan.

Ia menyebut kekuatan budaya menjadi daya tarik utama Jogja dibanding kota lain, terlebih dengan keberadaan Keraton sebagai bagian dari identitas kota.

Wawan juga mengapresiasi antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara, di mana seluruh kursi terisi penuh saat malam pembukaan. Bahkan, beberapa penonton harus berdiri karena tak mendapatkan kursi.

Ia berharap ke depan pembangunan berbasis budaya terus ditingkatkan, termasuk dalam menjaga kualitas pertunjukan ketoprak agar tetap berlandaskan sejarah.

“Ini ketoprak tapi bukan untuk buat main-main karena ini masalah sejarah. Improvisasi boleh, tapi benar-benar sejarah itu diperhatikan,” tandasnya.

Menurutnya, narasi yang dibangun dalam pertunjukan harus mampu mencerminkan perjuangan panjang berdirinya Jogja, sehingga ketokohan dalam cerita menjadi kuat dan bermakna. (Adv)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|