Potensi longsoran besar ke laut dan tsunami destruktif ada pada tingkat sangat kecil.
Rep: Frederikus Dominggus Bata,Rizky Suryarandika,Frederikus Dominggus Bata,Rizky Suryarandika/ Red: Gita Amanda
Pakar gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan situasi menjelang tsunami Selat Sunda pada 2018. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangkaian erupsi yang terus terjadi di Gunung Anak Krakatau dinilai merupakan bagian dari proses alami gunung api tersebut. Hal ini bertujuan membangun kembali tubuh gunung yang hancur seusai peristiwa longsoran besar atau flank collapse pada Desember 2018.
Pakar gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan situasi menjelang tsunami Selat Sunda pada 2018. Menurut dia, volume fisik dan ketinggian kerucut gunung api tersebut saat ini jauh lebih rendah. Sehingga, potensi terjadinya longsoran lereng secara masif yang dapat memicu tsunami destruktif berada pada tingkat yang sangat kecil.
“Serangkaian erupsi yang terus terjadi merupakan proses alami Gunung Anak Krakatau untuk membangun kembali tubuh gunung api yang hancur pascalongsoran besar (flank collapse) pada peristiwa Desember 2018 lalu,” kata Daryono kepada Republika, Senin (7/9/2026).
Daryono menjelaskan kondisi morfologi Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan bentuk kerucut yang setinggi dan seterjal seperti sebelum longsoran besar pada 2018. Dengan begitu, potensi material tubuh gunung longsor dalam volume besar ke laut dan memicu tsunami destruktif dinilai sangat kecil.
Daryono mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda, agar tidak panik merespons aktivitas erupsi Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap tenang sembari mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya atau radius aman yang ditetapkan PVMBG,” ucap Daryono.
Selain itu, Daryono menyebut masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik diminta menggunakan alat pelindung diri, seperti masker, untuk mengurangi risiko paparan abu. Daryono menegaskan aktivitas erupsi merupakan bagian dari dinamika alam gunung api. Karena itu, masyarakat diimbau untuk bersabar dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi.
“Insya Allah kondisi akan normal kembali, kita harus bersabar dengan proses alam ini,” ujar Daryono.

4 hours ago
8














































