
Petugas SPBU hendak melayani pembelian Pertamax Green 95. - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA— Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax diperkirakan berpotensi turun pada Juli 2026 seiring dengan melemahnya harga minyak dunia. Prediksi ini disampaikan pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi.
“Mestinya, awal Juli ini Pertamax akan diturunkan harganya,” ujar Fahmy saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurut Fahmy, harga minyak dunia saat ini berada di kisaran 80 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel. Lonjakan harga tersebut terjadi saat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memuncak.
Salah satu faktor yang sempat mendorong kenaikan harga minyak adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menyebabkan terganggunya pasokan global. Namun setelah situasi mereda dan jalur distribusi kembali dibuka, harga minyak mulai terkoreksi turun.
Harga Minyak Dunia Masih Fluktuatif
Fahmy menilai kondisi pasar minyak global masih sangat dipengaruhi dinamika geopolitik, khususnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menyebut, meski tren saat ini menunjukkan penurunan, ketidakpastian masih tinggi karena belum adanya kepastian perdamaian jangka panjang.
“Jadi masih fluktuatif, belum bisa dipastikan sampai kapan stabil,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa apabila harga Pertamax di dalam negeri berada di atas harga pasar, maka pemerintah perlu melakukan penyesuaian harga agar tetap sesuai dengan mekanisme pasar.
Harapan Penurunan BBM dan Stabilitas Ekonomi
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut harga BBM nonsubsidi berpotensi ikut turun seiring membaiknya kondisi global dan terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran.
Ia menilai, jika stabilitas geopolitik tercapai, dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada penguatan nilai tukar rupiah, penurunan biaya dana (cost of fund), serta meningkatnya arus investasi.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pemerintah tetap mengamankan berbagai sumber energi alternatif di tengah dinamika perundingan internasional tersebut.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyebut hubungan Iran dan AS masih bersifat dinamis sehingga Indonesia perlu tetap bersikap waspada terhadap berbagai kemungkinan.
“Optimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, arah harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan stabilitas geopolitik global dalam beberapa waktu ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































