Jakarta, CNBC Indonesia - PT Fore Kopi Indonesia Tbk. (FORE) berbicara mengenai potensi kenaikan harga bahan baku dan produknya di tengah ketidakpastian ekonomi dan global.
Direktur Utama FORE, Vico Lomar mengatakan dampak penutupan Selat Hormuz sudah terasa di Indonesia, yakni Adaya kenaikan harga bahan bakar non subsidi. Menurutnya, harga bahan baku produk perseroan berpotensi naik sedikit, sementara plastik mengalami kenaikan tertinggi.
Vico juga mengakui bahwa para vendor FORE juga telah mengirimkan proposal kenaikan harga. Namun demikian, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi melalui perjanjian yang mengikat harga bahan baku dengan para vendor.
"Kami mengantisipasinya, yaitu dengan melakukan penguncian ataupun juga kontrak yang dilakukan setiap tahun untuk bahan baku. Bahan baku yang tadi yang terlihat sepertinya akan naik di tahun ini," terang Vico saat Public Expose FORE secara virtual, Senin (11/5/2026).
Oleh karena itu, FORE belum berencana untuk menaikkan harga produk-produknya sampai akhir tahun 2026. Meski demikian, Vico menyatakan pihaknya akan tetap mewaspadai dampak dari perang AS-Israel dan Iran serta penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian Indonesia dan kinerja perseroan.
"So, di tahun ini kami tidak akan, tidak ada rencana untuk menaikkan harga daripada Fore Kopi sendiri. Namun kami tetap bisa melihat sejauh mana dampak ataupun sepanjang apa, kira-kira perang daripada di Selat Hormuz ini akan berdampak terus kepada ekonomi Indonesia secara keseluruhan dan juga ekonomi secara perseroan nanti ke depannya," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur FORE, M. Fahmi Rachmattulah menyatakan bahwa pihaknya akan tetap bertumbuh dengan menambah jumlah gerai tahun ini. Ia merincikan tahun lalu perseroan telah membangun 90 gerai, dan tahun ini membidik pembangunan lebih dari 100 gerai baru yang mencangkup merek Fore Coffee dan Fore Donut.
Untuk itu, perusahaan kopi premium itu menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp250 miliar tahun ini. Fahmi merincikan, sebesar Rp200 miliar untuk Fore Coffee dan Rp50 miliar untuk Fore Donut.
Direktur Tjhong Pie Chen menjelaskan bahwa capex Rp50 miliar untuk Fore Donut akan digunakan untuk pengembangkan dapur pusat atau central kitchen.
(fsd/fsd)
Addsource on Google


















































