Dukcapil: Nama Unik Warga Indonesia dari Naruto hingga Taylor Swift

5 hours ago 2


Harianjogja.com, JOGJA— Data kependudukan nasional tidak hanya berfungsi sebagai basis administrasi negara, tetapi juga menjadi cerminan perubahan budaya dan tren di tengah masyarakat. Dari jutaan nama yang tercatat dalam sistem Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), muncul beragam pola menarik yang menunjukkan bagaimana orang tua Indonesia memilih nama untuk anak-anak mereka.

Direktur Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Teguh Setyabudi, mengungkapkan bahwa tren pemberian nama terus mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Nama-nama yang dahulu populer kini mulai tergeser oleh nama yang dianggap lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman.

Menurut Teguh, secara nasional nama Muhammad masih menjadi salah satu yang paling banyak digunakan. Selain itu, sejumlah nama seperti Alfatih, Rafa, Aska, Aisyah, dan Ayudia juga banyak ditemukan dalam data kependudukan saat ini.

“Kalau secara nasional Muhammad banyak sekali. Tapi ada Alfatih, Rafa, Aska. Perempuan banyak Aisyah, Ayudia dan sebagainya. Nama-nama khas Papua mungkin juga sudah mulai berkurang menjadi nama-nama yang dianggap lebih modern. Tapi nama adalah suatu harapan, suatu doa,” ujar Teguh dikutip dari kanal YouTube Dukcapil Kemendagri, Selasa (4/8/2026).

Perubahan tren tersebut terlihat jelas jika dibandingkan dengan nama yang populer pada generasi sebelumnya. Nama seperti Joko, Sutrisno, hingga Selamat kini semakin jarang ditemukan pada anak-anak usia muda.

“Kalau sekarang ada anak usia delapan tahun namanya Selamat mungkin sudah sedikit. Jadi memang ada pergeseran tren nama,” katanya.

Meski tren modern semakin dominan, nama yang terinspirasi dari tokoh sejarah dan pahlawan nasional masih banyak digunakan masyarakat Indonesia. Dukcapil mencatat sejumlah nama seperti Kartini, Sudirman, Hatta, Hasan, Dewi Sartika, Soekarno, hingga Diponegoro tetap muncul dalam data kependudukan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian orang tua masih menjadikan figur-figur bersejarah sebagai inspirasi dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Nama tersebut biasanya dipilih sebagai simbol harapan agar sang anak memiliki karakter, semangat perjuangan, atau keteladanan seperti tokoh yang dijadikan inspirasi.

Selain pahlawan nasional, pengaruh budaya populer global juga terlihat kuat dalam data Dukcapil. Nama-nama selebritas internasional ternyata turut digunakan oleh sebagian warga Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah Olivia, Justin Bieber, Ariana Grande, Selena Gomez, hingga Taylor Swift. Kehadiran nama-nama tersebut memperlihatkan bagaimana budaya hiburan global turut memengaruhi pilihan nama masyarakat Indonesia.

Tidak hanya itu, pengaruh budaya Jepang juga tampak melalui banyaknya nama karakter anime yang tercatat dalam data kependudukan nasional. Dukcapil menemukan nama seperti Nobita, Naruto, Sasuke, Uchiha, Shinchan, Boruto, Suneo, hingga Uzumaki yang digunakan sebagai nama depan maupun bagian dari nama lengkap warga Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan kuatnya popularitas anime Jepang di Indonesia yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan membentuk kedekatan emosional bagi para penggemarnya.

Menariknya, inspirasi nama tidak hanya berasal dari tokoh atau karakter fiksi. Dukcapil juga menemukan nama-nama yang diambil dari nama negara, seperti Oman, Yunani, Yaman, Suriah, Saudi, Iran, hingga Rusia.

Di sisi lain, terdapat pula nama yang mencerminkan semangat nasionalisme dan identitas kebangsaan. Nama seperti Merdeka, Garuda, dan Indonesia masih tercatat digunakan oleh sejumlah warga.

Keragaman nama masyarakat Indonesia juga terlihat dari penggunaan huruf awal yang tidak lazim. Teguh menyebut sebagian warga memiliki nama yang diawali huruf-huruf yang relatif jarang digunakan dalam bahasa Indonesia, seperti X dan Q.

“Yang menarik juga kalau huruf hidup vokal O, V, dan sebagainya wajar, tapi penduduk kita juga ada yang diawali dengan X. Ada yang Q. Kalau O banyak lah, U juga banyak. Itu sangat jarang di kita,” ujarnya.

Bagi Dukcapil, seluruh keragaman tersebut menjadi gambaran kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Indonesia. Di balik setiap nama yang tercatat, terdapat harapan, doa, dan cita-cita orang tua untuk masa depan anak-anak mereka.

“Nama adalah suatu harapan, suatu doa,” kata Teguh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|