Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Dolfie Frederic Palit mencecar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo terkait depresiasi nilai tukar rupiah yang semakin dalam dari hari ke hari nya, meski stabilitas terjaga.
Ia memperingatkan, nilai fundamental rupiah yang kerap digembar-gemborkan BI tidak pernah tersentuh sejak 2014 dan malah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS saat ini, yang merupakan posisi terlemah.
"Kalau kita lihat Pak, riwayatnya dari 2014-2025, karena kita bicara kinerja 2025, memang kita enggak pernah berada pada situasi fundamental ekonomi rupiah yang pas," kata Dolfie dalam rapat kerja dengan BI di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Dolfie juga mempertanyakan sesungguhnya berapa biaya yang diperlukan oleh bank sentral untuk mendorong rupiah ke nilai fundamental.
"Itu kita ingin tahu pak untuk mendekatkan pada fundamental atau butuh biaya berapa. Penerimaan BI naik terus terlepas rupiah dengan fundamentalnya. Kalau dari 2014-2026 stabilitas terjadi rupiah melemah bukan menguat atau mendekat nilai fundamentalnya," katanya.
Sementara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai fundamental rupiah dihitung berdasarkan rentang yang tertulis dalam APBN, yakni Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar dengan rerata Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2026.
Perry menganggap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebetulnya masih stabil, bila merujuk tingkat persentase depresiasinya secara tahun berjalan. Meskipun, secara nilai tukar anjlok ke level Rp 17.630/US$ pada perdagangan kemarin, Senin (18/5/2026).
"Kami cek tadi di dalam year to date sampai sekarang 5,4% (depresiasinya) yang mana sebenarnya masih stabil," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Perry menuturkan bahwa fokus utama bank sentral adalah menjaga stabilitas pergerakan rupiah, bukan mempertahankan level kurs tertentu. Stabilitas yang nilai tukar ini diukur berdasarkan volatilitas atau naik-turunnya nilai tukar rupiah dalam periode tertentu.
"Kata-katanya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah. Kita bicara stabilitas, bukan level. Nah, ini yang kita jabarkan. Nah, yang kami dekati sekarang adalah yang kita sebut stabilitas. Ini adalah volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari," kata Perry.
Perry pun menegaskan volatilitas rupiah secara year to date (ytd) saat ini berada di level 5,4%. Angka tersebut dinilai masih relatif stabil dan terkendali dibandingkan sejumlah negara lain yang juga mengalami tekanan akibat gejolak global.
"Kami cek tadi itu di dalam year-to-date sekarang, itu adalah 5,4%. 5,4% which is actually itu masih relatif stabil. Lagi-lagi, mandatnya undang-undang stabilitas nilai tukar rupiah. Mari kita berdiskusi mengukur stabilitas, stabilitas bukan level, tapi ada bagaimana naik turunnya," paparnya.
Dia pun meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), terutama pada periode Juli dan Agustus 2026.
"Juli dan Agustus rupiah akan menguat," kata Perry.
Perry optimistis nilai tukar rupiah akan bergerak sesuai asumsi yang ditetapkan pemerintah dan BI sepanjang 2026, yakni di kisaran Rp 16.200-Rp 16.800 per dolar AS. Dia pun yakin nilai tukar rupiah akan kembali ke level Rp 16.500 per dolar AS. Adapun, rata-rata nilai tukar rupiah saat ini sudah berada di kisaran Rp 16.900 per dolar AS (ytd).
"Nilai fundamentalnya berapa? Average of the year Rp 16,500. Kisaran bawahnya Rp 16.200, kisaran atasnya 16.800. Apakah BI yakin akan masuk? Masuk. Karena sekarang Rp 16.900 year to date. Dan pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang tinggi. Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat. Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp 16.200- Rp 16.800," jelas Perry.
(arj/arj)
Addsource on Google














































