Dokumen CIA Beberkan Adanya Ancaman Serangan Pesawat Jelang 9/11

50 minutes ago 3

Newswire

Newswire Minggu, 13 September 2026 09:07 WIB

Harianjogja.com, JAKARTA—CIA membuka puluhan dokumen briefing kepresidenan terkait Osama bin Laden dan Al-Qaeda yang dikumpulkan sebelum tragedi 11 September 2001 atau 9/11. Salah satu catatan bahkan telah memuat peringatan mengenai kemungkinan penggunaan pesawat untuk menyerang sebuah kota di Amerika Serikat.

Melansir Al Jazeera, Sabtu (12/9/2026), dokumen tersebut dideklasifikasi bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan 9/11 yang menewaskan hampir 3.000 orang dan mengubah secara besar-besaran kebijakan keamanan nasional AS.

Catatan intelijen itu memperlihatkan bagaimana analis keamanan AS ketika itu melacak pergerakan serta jaringan pendukung bin Laden sekaligus mengidentifikasi potensi ancaman terhadap sasaran Amerika Serikat.

Dokumen yang kini dibuka juga menggambarkan pemahaman pejabat AS mengenai jaringan bin Laden di dalam negeri dan sejumlah negara lain, termasuk sumber pendanaan operasinya.

Direktur CIA John Ratcliffe menyebut pembukaan arsip tersebut sebagai "sebuah tindakan transparansi yang luar biasa".

Menurut Ratcliffe, dokumen itu menjadi pembukaan arsip Presidential Daily Brief (PDB) terbesar yang pernah dilakukan CIA. PDB merupakan laporan intelijen dengan klasifikasi sangat tinggi yang disiapkan komunitas intelijen AS untuk para pemimpin tertinggi pemerintahan.

Dokumen CIA Ungkap Peringatan Sebelum 9/11

Dokumen yang dideklasifikasi mencakup periode sejak Februari 1998 hingga sehari setelah serangan 9/11 pada 12 September 2001.

Salah satu dokumen yang dibuat pada Februari 1998 untuk Presiden AS saat itu, Bill Clinton, berjudul "Terrorists Seeking WMD Capability". Laporan tersebut menyinggung bin Laden dan kelompok ekstremis Islam lainnya terkait upaya memperoleh kemampuan senjata pemusnah massal.

Dua bulan kemudian, laporan intelijen AS menggambarkan keengganan Taliban menyerahkan bin Laden yang saat itu berada di Afghanistan dan dipandang sebagai "tamu" mereka.

Intelijen menilai rasa terima kasih Taliban atas bantuan bin Laden selama pendudukan Uni Soviet membuat mereka "enggan membuatnya menjauh dengan memantau atau mengendalikan aktivitasnya".

Peringatan yang lebih spesifik muncul lima bulan kemudian. Salah satu laporan menyebut bin Laden memiliki preferensi untuk melancarkan serangan langsung di wilayah AS.

"Pilihan yang lebih disukai [bin Laden] adalah menyerang AS di wilayahnya sendiri, di Washington," tulis laporan tersebut seperti dikutip Al Jazeera.

Dokumen yang sama juga mencatat kemungkinan pesawat digunakan sebagai sarana serangan.

"Al-Qaeda mungkin menerbangkan pesawat yang dipenuhi bahan peledak ke sebuah kota di AS," demikian isi laporan tersebut.

Ancaman Pembajakan Pesawat Kembali Muncul

Potensi pembajakan pesawat kembali tercatat dalam dokumen pada Desember 1998.

Laporan intelijen menyebut sejumlah konspirator berhasil melewati pemeriksaan keamanan dalam sebuah uji coba di bandara New York yang tidak disebutkan namanya.

"Beberapa anggota jaringan Bin Laden telah menerima pelatihan pembajakan," tulis laporan tersebut.

Dokumen lain juga mengungkap upaya bin Laden mendapatkan material untuk membuat dirty bomb atau bom yang menggabungkan bahan peledak konvensional dengan material radioaktif.

Pada Juni 1999, menurut laporan intelijen, para operatifnya telah melakukan eksperimen menggunakan bahan peledak untuk "meningkatkan daya ledaknya".

Dokumen Sehari Setelah Serangan 9/11

Sementara itu, laporan tertanggal 12 September 2001 memuat informasi dari sebuah sumber bahwa serangan sehari sebelumnya telah direncanakan selama dua tahun.

Gedung Capitol AS disebut turut menjadi salah satu sasaran dalam rencana serangan tersebut.

Meski CIA membuka lebih banyak detail mengenai informasi yang dimiliki intelijen AS menjelang tragedi 9/11, sebagian besar dokumen masih mengalami penyuntingan.

Penyuntingan dilakukan untuk menyembunyikan nama sumber dan informasi lain yang dapat mengungkap identitas mereka.

Dokumen-dokumen tersebut juga tidak menunjukkan temuan baru yang secara mendasar mengubah pemahaman mengenai perencanaan serangan maupun pengetahuan pemerintah AS ketika tragedi 9/11 berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|