DLH Bantul Sulap Sampah Jadi Kerajinan, Buka Peluang Ekonomi Warga

3 hours ago 4

DLH Bantul Sulap Sampah Jadi Kerajinan, Buka Peluang Ekonomi Warga

Pelatihan daur ulang sampah dalam rangkaian Bantul Creative Expo (BCE) 2026, Rabu (5/8/2026). Harian Jogja-Kiki Luqman\r\n

Harianjogja.com, BANTUL—Sampah anorganik tidak selalu berakhir sebagai limbah yang harus dibuang. Melalui pelatihan daur ulang sampah dalam rangkaian Bantul Creative Expo (BCE) 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul mengajak masyarakat mengubah berbagai bahan bekas menjadi produk fungsional yang memiliki nilai jual sekaligus berpotensi menambah pendapatan.

Pelatihan yang berlangsung di area parkir Stadion Sultan Agung Bantul pada 2–6 Agustus 2026 itu tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat kerajinan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pengelolaan sampah, dari sekadar barang buangan menjadi sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.

Kepala DLH Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, mengatakan sampah yang masih memiliki nilai guna semestinya tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.

Menurutnya, pengolahan kembali material bekas dapat menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.

"Pelatihan ini sangat penting karena mengajarkan masyarakat untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi," jelasnya, Rabu (5/8).

Melalui pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis bahan bekas yang masih layak dimanfaatkan menjadi produk baru yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Botol Plastik hingga Kemasan Kopi Disulap Jadi Kerajinan

Dalam kegiatan tersebut, peserta belajar mengolah beragam sampah anorganik menjadi berbagai produk kerajinan.

Beberapa hasil karya yang diperkenalkan meliputi gantungan kunci berbentuk tulip dari kain perca, keranjang berbahan tali galon, hiasan dinding, bros, hingga keset.

Bahan bakunya berasal dari limbah yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, seperti botol plastik, kemasan multilayer bekas bungkus kopi, kemasan mi instan, kemasan sabun, kain bekas, serta kain perca.

Menurut Bambang, pemanfaatan bahan-bahan tersebut memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan, keterampilan mengolahnya juga dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang menghasilkan nilai ekonomi.

Terapkan Prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle

Program yang dijalankan DLH Bantul mengusung konsep reduce, reuse, dan recycle dalam pengelolaan sampah.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diajak mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, tetapi juga memanfaatkan kembali barang yang masih layak dipakai serta mendaur ulang material yang sudah tidak digunakan.

Pelatihan ini terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, hingga pengunjung BCE 2026.

Keberadaan pelatihan di tengah penyelenggaraan pameran tersebut juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat secara langsung bagaimana bahan bekas dapat diolah menjadi produk dengan fungsi dan tampilan baru.

Berpotensi Menambah Penghasilan

Bambang menilai hasil kerajinan yang dibuat peserta tidak harus berhenti sebagai kebutuhan pribadi.

Menurutnya, produk daur ulang tersebut juga memiliki peluang dipasarkan sehingga dapat menjadi sumber tambahan pendapatan.

"Di sisi lain, produk tersebut juga dapat dijual sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, peluang ekonomi dari pengelolaan sampah menjadi semakin penting karena persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui proses pengangkutan dan pembuangan.

Keterlibatan masyarakat sejak dari sumber sampah, termasuk melalui kegiatan memilah dan memanfaatkan kembali material yang masih bernilai guna, menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi timbunan sampah.

Perubahan Perilaku Jadi Tantangan

Meski demikian, Bambang mengakui perubahan perilaku masyarakat masih menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah.

Kebiasaan memilah sampah perlu dibangun seiring dengan peningkatan keterampilan mengolah material yang telah dipisahkan agar tidak kembali bercampur dengan sampah lainnya.

DLH Bantul juga memastikan pembinaan, monitoring, dan evaluasi akan terus dilakukan kepada kelompok maupun peserta yang mengikuti pelatihan.

Langkah tersebut diharapkan membuat keterampilan yang telah diperoleh dapat terus berkembang dan diterapkan di lingkungan masing-masing.

"Kami mengimbau masyarakat mulai menggerakkan kegiatan daur ulang sampah sebagai solusi strategis pengelolaan sampah," pungkasnya.

Melalui pelatihan di Bantul Creative Expo 2026, DLH Bantul menempatkan pengelolaan sampah tidak hanya sebagai upaya menjaga lingkungan, tetapi juga sebagai kesempatan menciptakan produk bernilai guna yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|