REPUBLIKA.CO.ID, MARMARIS -- Saif Abukeshek, salah satu pemimpin pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 bakal kembali melanjutkan misi menembus blokade Gaza, Palestina melalui Turki. Saif, menegaskan dirinya yang tak bakal menurunkan intensitas perjuangan sipil bersama demi memastikan terbukanya jalur bantuan kemanusian masyarakat Gaza yang hinggi kini masih dalam penjajahan, dan genosida rezim Zionis Israel.
Saif mengatakan hal tersebut, setelah tiba di Barcelona, Spanyol, Ahad (10/5/2026) kemarin. "Saya tiba di Barcelona hanya untuk menyiapkan koper saya untuk kembali bergabung bersama kawan-kawan yang sudah menunggu di Turki," begitu kata Saif melalui akun Youtube Global Sumud Flotilla yang dikutip Republika dari Marmaris, Turki, Senin (11/5/2026).
Saif tiba di Spanyol setelah Zionis Israel mendeportasinya ke Yunani, pada Ahad (10/5/2026). Saif dideportasi setelah menjalani penawanan oleh rezim penjajahan di Tanah Palestina di sel tahanan Shikma sejak Kamis (30/4/2026). Selama dalam penawanan, Saif mengalami ragam penyiksaan fisik, maupun psikologis berupa ancaman pembunuhan, juga penjara 100 tahun.
Saif ditawan oleh tentara zionis setelah angkatan laut Israel melakukan penyerangan dan penculikan terhadap 22 kapal armada kemanusian Global Sumud Flotilla saat melintasi perairan internasional di dekat Pulau Kreta, Yunani pada Rabu (29/4/2026) tengah malam. Penyerangan dan penculikan oleh tentara zionis itu terjadi pada jarak sekitar 1.000 Kilometer (KM) dari perairan Gaza. Sebanyak 178 para relawan dan aktivis kemanusian yang ikut dalam pelayaran itu, mengalami penculikan dan kekerasan di atas kapal saat terjadi penyerangan.
Saif, adalah salah satu pemimpin dalam pelayaran kemanusian itu. Namun tentara penjajahan hanya menawan Saif bersama rekannya Thiago Avila yang juga menjadi pemimpin 56 armada dalam misi kemanusian tersebut. Saif dan Thiago dibawa ke tanah penjajahan di Palestina untuk ditawan dan diintrogasi paksa setiap hari selama delapan jam. Saif dan Thiago dalam kondisi dirantai pada bagian kaki, dan dituduh melakukan perbuatan perbantuan terhadap terorisme, serta dituduh membantu musuh zionis yang diperangi di Palestina.
Zionis Israel juga tak membiarkan Saif dan Thiago tidur karena selama dalam sel penawanan, tentara penjajahan mengurung keduanya pada sel yang terang benderang dengan suhu udara dingin. Selama dalam penawanan, Saif dan Thiago menyampaikan mogok makan dan minum. Pada Ahad (10/5/2026) Zionis Israel membebaskan keduanya setelah tekanan internasional masif menuntut pelepasan kedua aktivis kemanusian itu.
Saif, aktivis kelahiran Nablus, Palestina itu dilepaskan dan selanjutnya dideportasi ke Spanyol berdasarkan paspor. Sedangkan Thiago dideportasi ke negara asalnya di Brasil, melalui jalur darat ke Mesir. Kata Saif saat tiba di Spanyol, apa yang dialaminya bersama Thiago selama penculikan dan penawanan lebih baik ketimbang nasib yang dialami masyarakat di Palestina, khususnya di Gaza. Kata dia, penderitaan masyarakat di Palestina akibat penjajahan Zionis Israel patut diperjuangkan sampai tuntas.
"Apa yang kami lakukan ini, dan apa yang kami alami selama ini agar dunia tahu apa yang sedang terjadi, apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina," ujar Saif. "Kami ingin agar dunia melihat apa yang terjadi di Palestina, yang jauh mengalami hal-hal yang buruk dari apa yang kami alami," sambung dia. Saif mengungkapkan, selama dalam penawanan Zionis Israel di sel isolasi, dirinya juga semakin memahami bahwa penderitaan yang dialami warga Palestina yang dipenjara jauh lebih buruk lagi.
"Bahwa kami melihat, kami mendengarkan selama dalam tahanan, ribuan warga Palestina yang ditahan oleh rezim penjajahan Israel, mereka mengalami hal-hal yang lebih buruk dari apa yang selama ini kami alami," kata Saif. "Mereka (para tahanan Palestina) dibiarkan dalam penyiksaan terus menerus tanpa perlindungan, diperkosa selama dalam tahanan. Saya mendengarkan itu setiap hari teriakan-teriakan penyiksaan yang dilakukan agen-agen intelijen dan militer rezim Israel," sambung Saif.
Karena itu, Saif menegaskan agar dunia mengetahui. "Prioritas kita adalah dengan melakukan aksi-aksi kemanusian. Kita harus tetap membela hak-hak asasi manusia dengan tidak terus menerus memberikan impunitas terhadap rezim pelanggar hak asasi manusia," ujar Saif.
Di Marmaris, Turki, pantauan Republika kelanjutan misi Global Sumud Flotilla untuk berlayar menembus blokade Gaza, masih terus dipersiapkan. Saat ini, di Dermaga Albatros, Marmaris sudah terdapat sedikitnya 57 kapal-kapal kemanusian Global Sumud Flotilla yang akan melanjutkan misi membawa bantuan kemanusian untuk warga Gaza. Sekitar 500 aktivis dan relawan dari sedikitnya 40an negara, sudah berkumpul menunggu kapan pelayaran membawa makanan, obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan bayi itu akan kembali dilanjutkan.
Dari informasi yang diterima Republika, para relawan dan aktivis yang akan melanjutkan pelayaran dari Marmaris sudah memuat logistik bantuan ke kapal-kapal yang akan berlayar. Dan saat ini, diperkirakan pelayaran lanjutan akan ditentukan pada 13 Mei mendatang. Dari Indonesia, sedikitnya enam perwakilan dar Global Peace Convoy Indonesia yang rencananya bakal ikut berlayar menembus blokade Gaza itu.

2 hours ago
2















































